Komunikasi Dakwah

Komunikasi Dakwah adalah proses penyampaian pesan-pesan dakwah. Dakwah sendiri sebenarnya sebuah komunikasi karena dakwah artinya mengajak atau ajakan. Dalam literatur komunikasi, dakwah termasuk komunikasi persuasif, yaitu komunikasi yang mengajak orang lain agar berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.

Kunci Sukses Komunikasi Dakwah

Untuk mencapai keberhasilan dalam komunikasi dakwah, tentunya sarana, bekal dan metode harus dipenuhi seorang dai. Seorang dai yang jujur, ia dituntut untuk memiliki: Baca lebih lanjut

Iklan

Tetangga Ikut Aliran Sesat. Harus Bagaimana?

[Konsultasi Islam via SMS 081320746635. Dimuat di Buletin USWAH Pusdai Jabar yang terbit tiap Jumat].

Bagaimana sikap kita jika ada tetangga yang mengikuti aliran sesat. Wass 08112282xxx

Adanya perbedaan pemahaman tentang definisi aliran tersebut mengakibatkan kebingungan masyarakat dalam menentukan keyakinan sekaligus mensikapi aliran tersebut. Dalam kontek dakwah, selama ada ajaran yang dianggap menyimpang (mungkar) dari aqidah Islam maka wajib untuk dicegah. Di dalam al-Qur’an (an-Nahl:125) ada pendekatan metode dakwah yang harus dilakukan termasuk mengahadapi aliran tersebut. Metode tersebut adalah dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Pendekatan metode tersebut lebih efektif ketimbang dengan cara anarkis. Wallahu ‘alam bissawab!.

Kenapa dalam Islam Banyak Aliran yang diaggap menyimpang (”Sesat”)? Wass. 081394634xxx

Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan pemahaman atau penafsiran terhadap sumber ajaran Islam. Diantaranya, pertama, perbedaan pengambilan dalil dan metode dalam menentukan ketentuan hukum (al-istimbat al-hukum) jelas akan mengakibatkan perbedaan dalam pengamalan ajaran. Kedua, Pengambilan dalil yang sama tapi metode yang berbeda juga akan terjadi perbedaan pemahamn atau penafsiran. Dan ketiga, Dalilnya beda walau metodenya sama, maka akan terjadi perbedaan pula. Faktor-fator tersebut merupakan embrio adanya perbedaan penafsiran yang akan berpengaruh pada prilaku ajaran termasuk ajaran yang dianggap menyimpang karena terlalu liar (bebas) dalam menafsirkan atau penggunaan metode yang tidak sesuai kesepakatan ulama (ahli ushul).Wallahu a’lam.*

Apakah Hadis Qudsi itu? Apakah ada perbedaannya dengan hadis yang lain? Wass. 08882370xxx

Hadist qudsi adalah isyarat atau pesan yang datang secara langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasul meredaksikan atau membuat lafadznnya. Adapun hadis yang lain adalah khabar atau berita berupa prilku, perkataan, dan taqrir Rasulullah SAW.

Saya mau tanya, apakah shalat istighotsah dilakukan sendirian apakah itu sah, atau dikabulkan permintaanya?. Mohon penjelasan trima kasih 081546553XXX

Dalam istighosah tidak ada pelaksanaan sholat. Istighotsah merupakan prosesi do’a (permohonan) dari hamba Allah kepada Kholiqnya yaitu memohon pertolongan dari situasi dan kondisi yang sangat berat dan sulit (mencekam). Situasi dan kondisi tersebut tidak bisa digeneralisir menurut ukuran tertentu, karena berat dan sulitnya situasi dan kondisi tersebut dapat diukur menurut kapasitas pribadinya. Oleh karena itu, kita harus mengetahui situasi dan kondisi seperti apa harus melakukan istighosah. Istighosah bisa dilakukan oleh seorang diri atau kelompok dengan mengucapkan kalimat-kalimat asmaul husna atau dzikir. Wallauhu a’lam.

Ada tiga pertanyaan, dalam Al-Quran, surat dan ayat berapa yang menerangkan tentang: manusia ciptaan Allah, manusia sama derajatnya, dan manusia saling menghormati. Dari 08565996xxx

Surat dan ayat yang menerangkan tentang manusia adalah ciptaan Allah, di antaranya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Shaad :71);  Surat Shaad ayat 75 : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.(QS. Al-Araaf:11):

Surat dan ayat yang menerangkan tentang manusia sama derajatnya, di antaranya: “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(QS. An-am: 132); “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan” (QS. Al-Qaaf : 19).

Tetapi dalam surat yang lain, diterangkan bahwa derajat manusia disisi Allah itu bisa berbeda-beda sesuai dengan keiman dan ketakwaanya kepada Allah. Seperti, ”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS.At-taubah : 20); “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Az-Zuhruf:32):

Surat dan ayat yang menerangkan tentang manusia saling menghormati, di antaranya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS.An-Nisa:36).*

DAKWAH KULTURAL DAN PEMURNIAN AJARAN ISLAM

Oleh H. Syamsul Hidayat

 

Pengertian dan Landasannya

Dakwah Kultural sebagai strategi perubahan sosial bertahap sesuai dengan kondisi empirik yang diarahkan kepada pengembangan kehidupan Islami sesuai dengan paham Muhammadiyah, yang bertumpu para pemurnian pemahaman dan pengamalan Ajaran Islam dengan menghidupan ijtihad dan tajdid. Sehingga purifikasi dan pemurnian Ajaran Islam tidak menjadi kaku, rigid dan eksklusif, tetapi terbuka dan memiliki rasionalitas yang tinggi untuk dapat diterima oleh semua pihak. Dengan memfokuskan pada penyadaran iman melalui potensi kemanusiaan, diharapkan umat dapat menerima dan memenuhi seluruh ajaran Islam yang kaffah, secara bertahap sesuai dengan keragaman sosial ekonomi, budaya, politik dan potensi yang dimiliki oleh setiap kelompok umat.1

 

Atas dasar pemikiran tersebut dakwah kultural dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu pengertian umum (makna luas) dan pengertian khusus (makna sempit). Dakwah kultural dalam arti luas dipahami sebagai kegiatan dakwah dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia dengan makhluk berbudaya dalam rangka menghasil kultur alternatif yang kultur Islam, yakni berkebudayaan dan berperadaban yang dijiwai oleh pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam, yang murni bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah, dan melepaskan diri dari kultur dan budaya yang dijiwai oleh kemusyrikan, takhayul, bid’ah dan khurafat.2

 

Adapun dalam pengertian khusus, dakwah kultural adalah kegiatan dakwah dengan memperhatikan, memperhitungkan dan memanfaatkan adat-istiadat, seni, dan budaya loka, yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dalam proses menuju kehidupan Islami, sesuai dengan manhaj Muhammadiyah, yang bertumpu pada prinsip salafiyyah (purifikasi) dan tajdidiyyah (pembaharuan).3

 

Munculnya konsep dakwah kultural, sebagaimana diputuskan oleh Sidang Tanwir Muhammadiyah, Januari 2002, didorong oleh keinginan Muhammadiyah untuk mengembangkan sayap dakwahnya menyentuh ke seluruh lapisan umat Islam yang beragam sosial kulturalnya. Sehingga dengan dakwah kultural, Muhammadiyah ingin memahami pluralitas budaya, sehingga dakwah yang ditujukan kepada mereka dilakukan dengan dialog kultural, sehingga akan mengurangi benturan-benturan yang selama ini dipandang kurang menguntungkan, tetapi tetap berpegang pada prinsip pemurnian (salafiyyah) dan pembaharuan (tajdidiyah).

 

Dengan demikian, dakwah kultural sebenarnya akan mengokohkan prinsip-prinsip dakwah dan amar makruf nahi munkar Muhammadiyah yang bertumpu pada tiga prinsip Tabsyir, Islah dan Tajdid (TIT).

 

Prinsip tabsyir, adalah upaya Muhamamdiyah untuk mendekati dan merangkul setiap potensi umat Islam (umat ijabah) dan umat non-muslim (umat dakwah) untuk bergabung dalam naungan petunjuk Islam, dengan cara-cara yang bijaksana, pengajaran dan bimbingan yang baik, dan mujadalah (diskusi dan debat) yang lebih baik. Kepada umat Ijabah (umat yang telah memeluk Islam), penekanan tabsyir kepada peningkatan dan penguatan visi dan semangat dalam berislam. Sementara kepada umat dakwah (umat non-muslim) adalah memberikan pemahaman yang benar dan menarik tentang Islam, serta merangkul mereka untuk bersama-sama membangun masyarakat dan bangsa yang damai, aman, tertib dan sejahtera. Dengan cara ini dakwah kepada non-muslim tidak diarahkan untuk memaksa mereka memeluk Islam. Tetapi membawa mereka kepada pemahaman yang benar tentang Islam, sehingga mereka tertarik kepada Islam, bahwa dengan sukarela memasuki Islam.4

 

Prinsip Islah, yaitu upaya membenahi dan memperbaiki cara berislam yang dimiliki oleh umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, dengan cara memurnikannya sesuai petunjuk syar’I yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Ini dapat diartikan bahwa setelah melakukan dakwah dengan tabsyir, maka umat yang bergabung diajak bersama-sama memperbaiki pemahaman dan pengamalannya terhadapIslam.

Umat yang telah bergabung dalam dakwah tabsyiriyah memiliki background yang beragam baik sosial ekonomi, sosial budaya, maupun latar belakang pendidikannya. Keragaman tersebut akan membawa pengaruh kepada cara pandang, pemahaman dan pengamalan Islam, yang dalam banyak hal perlu diperbaiki dan dibenahi sesuai dengan pemahaman keagamaan Muhammadiyah, yang bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.5

 

Prinsip tajdid, sesuai dengan maknanya, prinsip ini mengupayakan pembaharuan, penguatan dan pemurnian atas pemahaman, dan pengamalan Islam yang dimiliki oleh umat ijabah, termasuk pelaku dakwah itu sendiri.

 

Baik prinsip islah maupun tajdid banyak dilakukan dengan cara menyelenggarakan pengajian dan ta’lim baik bersifat umum maupun terbatas. Juga mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah dan pondok pesantren.

 

Dakwah Kultural dan Pengembangan Masyarakat

Terminologi Dakwah kultural memberikan penekanan makna yang berbeda dari dakwah konvensional yang disebut juga dengan dakwah struktural. Dakwah kultural memiliki makna dakwah Islam yang cair dengan berbagai kondisi dan aktivitas masyarakat. Sehingga bukan dakwah verbal, yang sering dikenal dengan dakwah bil lisan (atau tepatnya dakwah bi lisan al-maqal), tetapi dakwah aktif dan praktis melalui berbagai kegiatan dan potensi masyarakat sasaran dakwah, yang sering dikenal dengan dakwah bil hal (atau tepatnya dakwah bi lisan al-hal).

 

Dengan makna di atas, dakwah kultural Muhammadiyah sebenarnya mengembangkan makna dan implementasi Geraakan Jamaah dan Gerakan Dakwah Jamaah (GJ-GDJ) yang diputuskan oleh Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Yogyakarta, tahun 1967, yang disempurnakan pada Rapat Kerja Nasional dan Dialog Dakwah Nasional, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1987 di Kaliurang.

 

Dakwah dengan pengembangan masyarakat dilakukan dengan pengembangan sumber daya manusia, yaitu memberikan bekal sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan kehidupannya, dengan memasukkan prinsip-prinsip kehidupan Islami. Sehingga mereka dapat melakukan pemenuhan kebutuhan, kepentingan dan kecenderungan hidupnya dengan bimbingan nilai-nilai ajaran Islam.

 

Dakwah Kultural dan Pluralitas Budaya

Interaksi Muhammadiyah dengan pluralitas budaya, dan lebih khusus seni budaya dan komunitasnya telah melahirkan sejumlah ketegangan, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif.

 

Ketegangan tersebut bersumber pada realitas historis-sosiologis, bahwa banyaknya kebudayaan dan seni budaya pada khususnya yang dikembangkan berasal dari ritual-ritual keagamaan sebelum kedatangan Islam. Sehingga banyak seni-budaya dan tradisi budaya lokal yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang bertentangan dengan aqidah, syari’ah dan akhlak Islam. Di samping itu, juga bersumber dari kerigidan pemahaman agama, yang tidak memberi ruang kepada pluralitas budaya dan pemahaman keagamaan, dan pemahaman terhadap ajaran Islam yang terlalu tekstual dan literal, dengan tidak melakukan pemekaran makna, tidak menggunakan pendekatan rasional dan pendekatan integratif (tauhidi).

 

Dalam kaitan dengan dengan pluralitas budaya dan tradisi lokal, dakwah kultural, sebagaimana dikemukakan di muka, Muhammadiyah memberikan sikap ko-eksistensi dan pro-eksisten dalam rangka tabsyiriyah, tetapi pada saatnya Muhammadiyah melakukan islah dan tajdid, sehingga seni dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan aqidah, syari’ah dan akhlak Islam dapat dipertahankan dengan memberikan isi dengan pesan-pesan keislaman. Di samping itu melakukan kreasi baru dengan menawarkan kultur alternatif yang merupakan ekspresi dari pengahayatan ajaran Islam, serta meluruskan segala kultur, dan seni-budaya yang membawa nilai-nilai kemusyrikan, takhayul, bid’ah dan khurafat menuju al-tauhid al-khalis.

 

Dengan demikian sikap ko-eksistensi dan pro-eksistensi merupakan konsekwensi pluralitas budaya dan sikap rasional Muhammadiyah, akan tetapi sikap ini merupakan bagian dari proses dalam tahapan dan marhalah dakwah. Sedangkan tujuan akhir dakwah cultural Muhammadiyah adalah tujuan dakwah Islam itu sendiri, yaitu tegaknya aqidah, syari’ah dan akhlak Islam secara kaffah, dan bersih dari syirk dan TBC. Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘Alim. (* Penulis, Wakil Ketua MTDK PP Muhammadiyah. http://www.eprionts.ums.ac.id).*

 

1QS. Ali Imran: 159

2Tim PP Muhammadiyah, Pedoman Umum Dakwah Kultural Muhammadiyah, 2002, p. 21, diperkaya dengan prasaran dari Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah.

3Ibid. diperkaya dengan prasaran dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

4H.M. Djindar Tamimy, Pokok-pokok Pemahaman Islam dalam Muhammadiyah, tulisan lepas tidak diterbitkan, 1985; lihat pula A. Rosyad Sholeh et.al, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta: Persatuan, 1980

5ibid. *

Setiap Muslim Wajib Berdakwah

ISTILAH dakwah berasal dari bahasa Arab: da’a, yad’u, da’wah. Artinya mengajak, menyeru, memanggil, menganjurkan. Dakwah yang kita maksudkan di sini adalah mengajak, menyeru, memanggil atau menganjurkan manusia untuk tetap berada di jalan yang diridhlai Allah SWT. Bukan jalan yang dimurkai dan disesatkan-Nya.

 

Perlu dicamkan, sebelum berdakwah kepada orang lain, seorang muslim atau seorang pendakwah (da’i/da’iyat) harus mampu mendakwahi dirinya sendiri. Ia harus terlebih dahulu menghiasi dirinya dengan Iman, Islam dan Ihsan yang menyatu dalam pikir, sikap dan perlikunya sehari-hari.

 

Sejarah telah menunjukkan, keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW lebih banyak karena faktor keteladanan yang ditunjukkannya. Bukan faktor kuantitas dan formalitas dakwah. Bila keteladanan hilang, maka seruan, ajakan, panggilan dan anjuran dari para pendakwah tidak akan memberi makna apa-apa bagi masyarakat.

 

Menapaki Jalan Para Nabi

Dakwah merupakan tradisi yang mulia. Ia tradisi dari para nabi dan rasul. Siapa pun yang melaksanakan tradisi ini, akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan. Dalam tradisi agama samawi (Islam, Nasrani dan Yahudi), dakwah adalah kewajiban. Setiap pemuluk agama samawi diwajibkan untuk mengabarkan ajaran-ajaran agama pada seluruh umat manusia. Tentunya dengan kemampuan masing-masing. Nabi SAW menegaskan: “Sampaikanlah ajaranku walau satu ayat”.

 

Karena kewajiban tersebut, maka setiap Muslim di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun harus selalu mendakwahkan agamanya. Hal ini menuntut setiap Muslim untuk terus-menerus mendalami ajaran agama dan memperbaiki dirinya dengan etika dan moralitas keagamaan. Dengan kata lain, kita dituntut untuk terus-menerus berakhlak baik (akhlakul karimah). Hanya dengan demikian, dakwah akan masuk dan diterima orang lain.

 

Seperti juga Nabi dan Rasul. Mereka tidak melepaskan diri dari Allah barang sedikit pun. Hal ini harus diteladani oleh setiap Muslim dalam menjalankan kewajiban dakwahnya. Jangan sampai hati dan perbuatan kita lalai dari Allah. Memang, kita bukan Nabi atau Rasul. Namun, upaya menjaga diri untuk terus-menerus dekat dengan Allah (taqorub ilallah) menjadi kewajiban kita sebagai penerus jejak mereka.

 

Jika kita sudah mengetahui dan memahami bahwa dakwah adalah kewajiban untuk terus-menerus belajar, ini akan membuat kita semakin tahu siapa diri kita. Bila itu sudah tercapai, kita akan tahu siapa Tuhan kita. Kombinasi pengetahuan dan pemahaman akan diri dan Tuhan ini, akan membawa pada dakwah yang efektif dan efisien. Itulah dakwah para Nabi dan Rasul. Terbukti dakwah mereka berhasil membawa umat dari kegelapan ke jalan yang terang benderang (minadzulumati ilannuri). Wallohu a’lam bish-shawab. (mail-archive.com).*

Pusdai = Pusat Studi dan Dakwah Islam

SENIN (7/7) lalu, dalam sebuah obrolan dengan Ketua Pusdai Jabar Drs. H. Zaenal Abidin, M.Ag., terungkap bahwa kepanjangan Pusdai sebenarnya bukan Pusat Dakwah Islam, melainkan Pusat Studi dan Dakwah Islam.

Setidaknya, itu pulalah yang menjadi visi-misi beliau dalam memimpin Pusdai sekarang. Beliau ingin agar Pusdai ini benar-benar menjadi pusat studi Islam, tempat umat mengkaji, menelaan, atau memperdalam ilmu keislaman demi peningkatan kualitas ilmu, iman, dan amal Islami; juga sebagai pusat dakwah, tempat umat melakukan berbagai aktivitas syiar Islam, seperti diskusi, seminar, kajian, ceramah, tablig akbar, dan sebagainya.

Oleh karena itu, mulai saat ini, sosialisasi mulai dilakukan, bahwa Pusdai Jabar kependekan dari Pusat Studi dan Dakwah Islam Jawa Barat.*

Kepanjangan Pusdai Yang Sebenarnya

SENIN (7/7) lalu, dalam sebuah obrolan dengan Ketua Pusdai Jabar Drs. H. Zaenal Abidin, M.Ag., terungkap bahwa kepanjangan Pusdai sebenarnya bukan Pusat Dakwah Islam, tetapi Pusat Studi dan Dakwah Islam.

Setidaknya, itulah yang menjadi visi-misi beliau dalam memimpin Pusdai sekarang. Beliau ingin agar Pusdai ini benar-benar menjadi pusat studi Islam, tempat umat mengkaji, menelaan, atau memperdalam ilmu keislaman demi peningkatan kualitas ilmu, iman, dan amal Islami; juga sebagai pusat dakwah, tempat umat melakukan berbagai aktivitas syiar Islam, seperti diskusi, seminar, kajian, ceramah, tablig akbar, dan sebagainya.

Oleh karena itu, mulai saat ini, sosialisasi mulai dilakukan, bahwa Pusdai Jabar itu kependekan dari Pusat Studi dan Dakwah Islam Jawa Barat.*

DAKWAH DENGAN PENA, KENAPA TIDAK?

KALAU selama ini para ulama maupun tokoh agama dalam berdakwah lebih banyak dilakukan dengan ceramah, khotbah, penulis buku ini –Asep Syamsul M. Romli alias Kang Romel–mengenalkan cara lain, yakni melalui jurnalistik. Sehingga sesuai isinya, buku ini diberi judul “Jurnalistik Dakwah: Visi dan Misi Dakwah Bil Qalam”.

Kendati banyak cara dalam berdakwah, tanpa peran media untuk menyebarluaskannya, dakwah itu hanya terbatas pada orang-orang yang menjadi pesertanya. Kini, dengan adanya media massa sebagai alat untuk menyebarluaskannya, dakwah yang semula hanya disampaikan di sebuah mesjid, misalnya kemudian dimuat di koran, akhirnya bisa menyebar dibaca orang banyak.

Penulis buku ini mengingatkan betapa pentingnya peranan jurnalistik untuk berdakwah. Menurut penulisnya, dalam berdakwah selain bisa melalui koran, buletin, buku-buku, belakangan ini juga bisa dilakukan melalui internet dan media seluler. Jadi betapa pentingnya membuka wawasan kita tentang cara-cara berdakwah.

Oleh karena itu, amat disayangkan apabila media-media yang telah ada itu tak dimanfaatkan. Yang kita sayangkan pula, tak semua orang menguasai cara seperti dikenalkan penulis buku ini. tak semua orang terampil menulis. Di samping juga keterbatasan masyarakat dalam mengaksesnya, seperti tak semua orang mampu membeli buku, komputer, dsb.

Dalam Alqur’an, bahkan ayat yang pertama kali turun menekankan betapa pentingnya pena atau kalam. Dan dalam buku ini mengenalkan pembaca tentang urgensi dakwah bil qalam (DBQ), yang diistilahkan pula dakwah bil kitabah.

Qalam/kalam atau pena merupakan alat, dan menggunakan alat itu bisa dipakai untuk menginformasikan segala yang ingin disampaikan kepada umat.

Ingin tahu rahasia DBQ? Baca buku ini, karena di dalamnya memuat masalah jurnalistik islami, kiat menulis artikel dakwah, kiat menulis berita dakwah, kiat membuat buletin mesjid sebagai bagian DBQ, juga kiat mengirimkannya ke media massa. (www.rosda.co.id).*