Hikmah dari Penghinaan Kepada Nabi Saw

usep_romliOleh H. Usep Romli HM

Nabi Muhammad Saw kembali diperhinakan. Sekarang melalui tampilan gambar-gambar komik yang dimunculkan melalui internet. Umat Islam tentu saja protes, marah dan patut menuntut tindakan tersebut melalui hukum yang berlaku.

Upaya penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw, tampaknya terencana dan tak pernah henti. Bentuk yang digunakannya pun bervariasi.

Mulai novel (“Ayat-ayat Setan” karya Salman Rusdhie, 1989) dari kartun yang dimuat di suratkabar (Jyland Posten, Denmark, 2005), film (“Fitna” buatan anggota parlemen Belanda, Greet Wlider, 2008), dan banyak lagi. Termasuk melalui bait-bait puisi karya bujangga Italia terkenal abad 13, Dante Alighiere dalam epik “Divina Comedia”.

Sebenarnya penghinaan dan penentangan terhadap Nabi Saw, bukan hanya sekarang saja. Melainkan sudah berlangsung sejak Nabi Saw mendapat wahyu, menyebarkan Islam di kalangan masyarakat kafirin-musyrikin Mekkah, agar tunduk patuh kepada Allah SWT, dan mengikuti jejak utusanNya, Muhammad Rasulullah Saw.

Sikap antipati kafirin-musyrikin Quraisy yang menguasai kota Mekkah, berpadu dengan sikap antipati kelompok-kelompok Yahudi setempat, yang menolak kedatangan nabi dari turunan Bani Ismail. Bangsa Yahudi hanya menerima nabi dari kalangan mereka sendiri (Bani Israil). Padahal Nabi Ismail sebagai leluhur Nabi Saw, merupakan putra sulung dari Nabi Ibrahim As. Putra Ibrahim yang lain (adik Ismail), yaitu Ishak, berputra Yakub (Israel). Inilah silsilah yang diakui secara eklusif dan mutlak oleh bangsa Yahudi dari dulu hingga sekarang.

Perjuangan Nabi Muhammad Saw berhasil sukses di segala bidang. Meliputi akidah (tauhid), ibadah, ahlak dan muamalah (sosial, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan, dlsb). Sehingga menjadikan Islam unggul tanpa terungguli (al Islamu ya’lu wa la yu’la alaihi) dan umatnya menjadi umat terbaik di antara semua manusia di muka bumi (khoiro ummatin ukhrijat linnasi). Yaitu tatkala umat Islam mampu melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran) serta beriman kepada Allah SWT. (Q.s. Aki Imron :110)

Tatkala umat Islam meninggalkan amar ma’ruf nahyi munkar dan tidak beriman kepada Allah SWT, maka merosotlah reputasi sebagai orang terbaik itu. UmatIslam menjadi buih dipermainkan gelombang, ibarat nasi sepiring diperebutkan banyak orang. Berceceran. Lemah tak berdaya. Hilang komara. Hilang wibawa.

Tibalah saat-saat genting. Umat Islam diperdaya. Ditindas. Dilindas. Nabinya dihina, kitab suci (Quran) dipermainkan, hukum-hukum (syariat) diabaikan, dlsb. Bukan saja oleh umat lain yang anti-Islam. Tapi juga oleh yang mengaku Islam.

Sebagian orang yang mengaku Islam ikut “menghina” Islam melalui perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah SWT dan RasulNya. Beramai-ramai berzina, baik dizinai maupun mezinai (27 anak remaja ABG Tasikmalaya, yang menzinai seorang wanita di bawah umur, pasti semuanya beragama Islam), 99% dari para tersangka. Terdakwa dan terpidana korupsi, baik di pusat maupun daerah, adalah umat Islam. Mayoritas “preman” yang suka memeras, mabuk minuman keras, dan perbatan a-moral serta a-sosial lainnya, mengaku beragama Islam. Para pasangan selingkuh yang digerebeg di hotel-hotel, rata-rata beragama Islam.

Ini suatu peringatan. Ini pembuka jalan untuk “muhasabah” (koreksi diri). Pantas Islam diejek, dihina. Nabinya dijadikan bulan-bulanan kebencian. Toh perlakuan yang nyaris sama sebangun dilakukan juga oleh orang-orang Islam sendiri. Masya Alloh.

Karena itu, menghadapi kasus komik menghina Nabi Saw di internet, umat Islam tak perlu terburu napsu. Apalagi sampai berbuat onar dan rusuh. Tempuh jalan hukum, seraya memperbaiki kondisi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Agar benar-benar Islami. Agar benar-benar punya harga diri. Patuh dan taat kepada Alloh dan RasulNya secara lengkap sempurna (kaaffah), secara istiqomah. Perbaikan internal terus-menerus tanpa henti, dengan memperkokoh akidah, memperkhusyuk ibadah, memperbagus ahlak dan memperbanyak amal kebajikan. Sehingga menunjukkan nilai ketinggian Islam dan umat Islam (Izzul Islam wal Muslimin) secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sudah berhasil demikian, Insya Alloh, tak akan ada lagi yang berani mengganggu, baik secara pisik, maupun non-pisik Tak akan ada lagi yang berani menghina Nabi Saw, karena umat Islam benar-benar telah menjadi panutan. Menjadi sumber kekaguman. Menjadi suri tauladan kehidupan di dunia dan akhirat, sebagaimana Nabi Saw sendiri yang dinobatkan oleh Alloh SWT sebagai “uswatun hasanah” (Q.s.al Ahzab:33). ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: