Kiat Menulis Artikel Dakwah

Oleh H.Usep Romli HM

* Makalah untuk Training Dakwah bil Qalam, Bidang KIK Pusdai Jabar, Jum’at, 19-20 September 2008.

“Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air” (Gordon Smith, politikus Inggris, abad 18).

Membaca dan menulis ibarat sisi mata uang. Saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Salah besar pendapat orang yang menganggap membaca dan menulis membuang-buang waktu. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban dan mengetahui manfaat membaca dan menulis dalam mengembangkan kemajuan peradaban.

Hanya saja, mayoritas bangsa kita masih awam dalam soal membaca dan menulis. Alasannya, tidak punya waktu. Padahal dalam sehari-semalam banyak orang membuang-buang waktu tak karuan. Seperti nongkrong di pinggir jalan, ngobrol di gardu ronda, melamun memeluk lutut, dan sebagainya.

Membaca dan menulis dianggap bukan professi penting. Dianggap tidak menghasilkan. Berbeda dengan dagang, kuli, menjadi PNS, debt colector, atau pekerjaan lain yang tidak membutuhkan membaca dan menulis.

Ditambah kurangnya dukungan infrastruktur yang mendorong kemajuan pekerjaan membaca dan menulis. Harga buku mahal (padahal dibandingkan dengan harga kaset, CD, DVD, harga buku lebih murah). Menulis membutuhkan enerji khusus (padahal berolahraga lebih membutuhkan enerji khsus dalam bentuk makanan-minuman suplemen yang tidak murah). Perpustakaan juga sangat kurang. Jangankan perpustakaan pribadi, perpustakaan umum pun, nyaris tidak ada di sembarang tempat. Kalaupun ada, kesannya angker, birokrasinya rumit, koleksinya kurang dan “out of date”. Bandingkan dengan kondisi negara besar seperti Amerika Serikat, pada abad 18 saja, para penduduk pedesaan rata-rata sudah memiliki perpustakaan pribadi di rumah masing-masing.

Pada kesempatan ini, akan diuraikan kiat-kiat sederhana tentang membaca dan menulis.Tentu saja, menulis akan mendapat prosi lebih besar, karena soal membaca, kiranya para peserta Diklat sudah terbiasa. Mungkin dalam intensitas saja yang perlu peningkatan.

***

JIKA membaca sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi tuntutan, akan muncul keinginan menulis. Segala sesuatu yang dibaca akan merangsang pendapat kita, baik yang berlawanan maupun yang sejalan dengan isi tulisan. Jika selama atau sesudah membaca sebuah tulisan, timbul perasaan “saya juga bisa” atau “ah, pendapat ini salah”, Insya Allah, bibit kepenulisan mulai mekar berkembang, dan perlu penyaluran segera. Jangan dibatasi dengan “ingin menulis” tanpa pernah mencobanya satu kali pun.

Kedua, menumbuhkan kegemaran dan keterampilan menulis. Langkah-langkah ke arah itu, adalah sebagai berikut :

1. Tulislah apa yang ingin kita tulis pada waktu keinginan itu tiba-tiba muncul. Jangan dibiarkan menunggu hingga keinginan itu lenyap kembali. Calon penulis professional akan selalu menyiapkan catatan atau skema singkat, apabila keinginan menulis tiba-tiba muncul. Keinginan menulis tiba-tiba, berupa embrio apa-apa yang akan ditulis, disebut juga ilham, atau apa saja namanya, akan muncul di mana saja. Di perjalanana, di tempat kerja, di bus kota, di warteg atau di WC. Secarik kertas yang tersedia di saku kemeja mungkin akan menjadi penampung terpenting pertama dalam situasi dan kondisi mendadak. Atau ingatan yang kuat ikut berperan sebagai terminal gagasan.

2.Luangkan waktu khusus untuk menuliskan apa-apa yang sudah tercatat atau terpikirkan.

3.Jika waktu luang sudah ada, gagasan dan ilham sudah berhasil dituangkan, maka jadilah Anda seorang bakal penulis. Selamat.

***

Seluk-beluk menulis dan tulisan.

Tulisan terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah paparan, uraian, penyampaian gagasan melalui susunan kata dan kalimat. Isi adalah gagasan, pendapat, keinginan, usul, saran yang kita kemukakan lewat tulisan tadi.

Dilihat dari bentuk dan isinya, tulisan terdiri dari dua jenis :

1.Fiksi : tulisan berdasarkan imajinasi, hayalan. Namu tetap berpijak kepada gagasan nyata. Disampaikan dalam rangkaian kata dan kalimat yang penuh “bunga” gaya bahasa. Penuh metafore, personifikasi, hyperbol, bombasme dan sebagainya yang dikategorikan bahasa “sastra”. Tulisan fiksi meliputi prosa (ceritera pendek, novel, roman), dan puisi (sajak, lirik, nyanyian).

2.Non-fiksi : tulisan berdasarkan data dan fakta. Disampaikan dalam bahasa lugas, tidak menggunakan “gaya bahasa sastra”, walaupun mungkin pada sebagian menampilkan kesan “sastra”. Terutama pada tulisan berbentuk essey.

Yang termasuk tulisan non-fiksi, adalah berita, reportase, essey, artikel opini, artikel ilmiah. Tulisan non-fiksi, bermuatan informasi tertentu (orang tertabrak kerataapi, peristiwa kebakaran, peledakan bom,dlsb.) yang dikemas dalam berita, atau reportase hasil liputan para jurnalis yang terikat oleh kaidah 5 W (What, Why, When, Where, Who) plus 1 H (How), analisa (pada karya ilmiah dan semi ilmiah), serta pandangan penulisnya mengenai satu atau berbagai hal (pada artikel opini).

***

URAIAN di atas merupakan patokan penulisan naskah bersifat umum. Untuk menulis naskah keagamaan, dapat diperkecil ruang lingkupnya sebagai berikut :

1.Naskah keagamaan bersifat khusus. Menguraikan masalah-masalah fiqih (thaharah, shalat, zakat, saum, haji, mengurus jenazah, dll.), syaraf-nahwu, ulumut tafsir, dll. sebagai bahan ajar di sekolah/madrasah/pesantren.

2.Naskah keagamaan bersifat umum. Menguraikan berbagai fenonema sosial, politik, budaya, ekonomi, berdasarkan sudut pandang agama. Dalam hal ini, Islam.

Jenis yang kedua inilah yang dimaksud dengan naskah keagamaan. Inilah yang disebut artikel dakwah

Setiap tulisan, apalagi tulisan keagamaan atau artikel dakwah, mutlak harus mengacu kepada petunjuk al Quran dan Sunnah Rasululhah Saw. Yaitu mengandung berita yang baik dan benar sesuai dengan missinya mengabarkan sesuatu (Q.san Naba), mencari dan mengetengahkan informasi (Q.s.al Anbiya : 77).

Maka di dalam mengumpulkan bahan-bahan untuk artikel dakwah, baik melalui referensi bacaan, maupun wawancara, harus benar-bnar terarah, fokus pada pokok permasalahan dan jelas (Q.s.al Maidah : 101), harus dicek and ricek (Q.al Hujurat : 6), bersih dari sikap intimidasi, menakut-nakuti (Q.s.an Nisa : 94), dan menjauhi prasangka buruk (Q.s.alHujurat : 12).

Aritkel dakwah tidak mengandung dan mengundang fitnah yang memutus silaturahim. Sebab pemutusan silaturahim akan menghilangkan rahmat Allah SWT. Sabda Nabi Saw : Inna rahmatan la tanzil ala qaumin qath’urrahim.

Kalau menjadi bahan polemik (perang pendapat secara tertulis atau “perang pena”), tidak mejadi masalah, asal tidak ke luar dari prinsip “bil hikmah, wal maudzatil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan” (Q.s.an Nahl : 25).

Kata orang Inggris, never put til tomorrow, what can you do today. Mengapa menulis artikel dakwah tidak dimulai hari ini ? Jangan tangguhkan hingga besok.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: