Da’wah Lewat Media Tulis

 

Asep S. Muhtadi

Asep S. Muhtadi

Oleh Dr. H. Asep S. Muhtadi, MA

 

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah dakwah hampir dimaknai identik dengan ceramah, khutbah, atau sejenisnya. Jarang orang menyebut dakwah terhadap kegiatan seorang kolumnis, wartawan, atau pembuat karya tulis lainnya. Terhadap Kyai Arifin Ilham yang mampu membuat audien menangis ketika mengikuti uraian ceramahnya di suatu mesjid, tanpa harus berpikir panjang, orang gampang saja menyebutnya sebagai seorang da’i. Tapi tidak pada seorang Eddy D. Iskandar meskipun kenyataannya lebih banyak lagi audien yang menangis ketika membaca karya tulisnya yang dibuat dalam bentuk novel.

Padahal, jika dakwah itu secara sederhana dimaksudkan sebagai usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mampu melakukan perubahan, baik pikiran, perasaan, sikap maupun perilakunya, maka apapun bentuk kegiatannya, termasuk menulis, seorang kolumnis pun bisa disebut da’i. Melalui karya tulisnya, seorang penulis akan berusaha mempengaruhi para pembacanya sehingga mampu menyentuh audien dalam jumlah yang bisa melebihi para pendengar ceramah akbar sekalipun.

Para penulis juga sebetulnya selalu terlibat dalam kegiatan dakwah. Bahkan usia dakwah tulisan akan jauh lebih panjang dibanding dakwah lisan. Bayangkan, untuk menyampaikan ceramah lisan secara langsung di hadapan para jamaah, seorang Hamka kini tidak mungkin lagi bisa melakukan dakwah, karena memang telah tiada. Tapi melalui media tulis, Hamka hingga saat ini masih tetap “hidup” menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Tafsir Al-Azhar masih hadir di ruang-ruang kuliah dan pengajian; dan Di Bawah Lindungan Ka’bah pun masih tetap lincah mengajak para jamaah merenungkan pesan-pesan moral yang tertata apik dan menggairahkan. Hamka telah tiada, tapi dakwahnya masih tetap hidup mengunjungi para jamaah.

Bukan hanya usianya yang lebih panjang. Tapi media tulis juga memiliki kelebihan yang sulit diimbangi oleh media lisan lainnya, termasuk media elektronik. Beberapa riset komunikasi massa memperlihatkan fakta yang menarik di seputar efek media cetak. Media tulis, salah satunya, ternyata memiliki kekuatan luar biasa dalam mengendalikan perilaku khalayak. Efek psikologisnya memiliki dampak yang lebih permanen dibanding media massa lainnya.

Ada beberapa kelebihan media tulis jika dibandingkan dengan media lisan, termasuk dalam kegiatan berdakwah. Salah satunya adalah bahwa media tulis umumnya memiliki struktur paparan yang lebih rapih dibanding media lisan. Pesan-pesan yang dirangkai dalam tulisan dapat dirumuskan secara lebih hati-hati, sehingga jika sewaktu-waktu penulis melakukan kesalahan pada saat menulis, ia dapat memperbaikinya sebelum dibaca oleh pembaca. Sebaliknya seorang khotib yang melakukan kesalahan ketika menyampaikan khutbah, akan sulit memperbaiki sebelum pesan itu didengar oleh para pendengarnya.

Media tulis juga dapat dipikirkan ulang ketika sewaktu-waktu ditemukan pembacanya ada hal-hal yang sulit dipahami. Sebuah karya tulis dapat disimpan sementara, untuk kemudian dibaca kembali jika diperlukan. Bahkan, jika sewaktu-waktu diperlukan, karya tulis juga dapat diulang-ulang dibaca, sehingga proses internalisasi pesan di kalangan para pembacanya memiliki peluang yang lebih besar, bila dibanding dengan proses penyampaian pesan yang hanya sepintas diterima. Jika ditemukan istilah asing yang belum dipahami maknanya, seorang pembaca dapat dengan leluasa membuka kamus terlebih dahulu. Padahal jika istilah asing itu diperoleh ketika mengikuti ceramah lisan, seorang pendengar akan menemukan kesulitan untuk memperoleh penjelasan makna sehingga akan mengaburkan substansi pesan secara keseluruhan.

Karena itu, pesan-pesan media tulis secara umum memiliki efek yang lebih besar dibanding media lisan. Sebuah survey komunikasi memperlihatkan bahwa pesan-pesan yang disajikan dalam buku (seperti novel, komik, dan sejenisnya) dan majalah ternyata memiliki efek psikologis yang lebih besar dibanding film dan radio yang hanya dikonsumsi melalui indera pendengaran. Salah satu alasannya adalah karena media cetak (seperti koran dan majalah) memiliki tingkat kedekatan (proximity) yang lebih besar dibanding media elektronik (seperti radio dan bahkan televisi).

Selain kelebihan-kelebihan di atas, memang ada kelemahan yang tidak bisa ditawar-tawar. Media tulis mensyaratkan kemampuan membaca audiennya. Seorang buta aksara tidak akan mampu secara langsung menikmati paparan seorang kolumnis yang setiap pagi datang lewat koran dan majalah. Tapi tentu ia dapat menikmati suara merdu seorang penyiar yang juga hadir setiap saat lewat radio. Jika datang ke masjid untuk melakukan shalat jum’at, seorang buta aksara hanya memperoleh satu kenikmatan, yaitu pesan-pesan khotib di atas mimbar. Tapi mereka yang terampil membaca, akan memperoleh paling tidak dua kenikmatan: khotib di atas mimbar dan lembaran jum’at yang kini tersedia hampir di semua masjid.

Di samping kelebihan dan kekurangan media tulis seperti disebutkan di atas, tulisan juga kini dapat menjadi alternatif pemecahan ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi meluangkan waktu untuk menghadiri pengajian, mengikuti dakwah-dakwah Islam yang disampaikan dalam bentuk ceramah lisan di masjid-masjid. Proses perubahan pola kerja masyarakat kini telah menyita hampir seluruh waktu bangun mereka. Akibatnya, mereka mulai kehilangan kesempatan untuk menghadiri acara-acara dakwah Islam yang biasa diselenggarakan hampir pada setiap momentum kegiatan dan peringatan-peringatan di negeri ini. Ketidakmampuan mereka untuk menghadiri kegiatan dakwah bukan saja diakibatkan oleh makin sempitnya waktu, tapi juga karena makin terbatasnya tenaga dan membanjirnya pekerjaan.

Alternatifnya, kini diperlukan pola penyampaian dakwah Islam yang tidak terlalu menuntut masyarakat hadir secara langsung. Dan, salah satu solusinya, dakwah disampaikan melalui media tulis. Dengan begitu, dakwah dapat berjalan terus meskipun kesempatan mereka telah tersita seluruhnya. Dakwah melalui media tulis akan tetap datang mengunjungi mereka yang sedang istirahat di rumahnya masing-masing. Mereka bisa tetap menikmati sajian dakwah Islam, tanpa harus meninggalkan pertemuan keluarga selepas makan malam.

Tapi, tuntutannya adalah, kini semakin dibutuhkan para juru dakwah tulisan. Sebab corak dan gaya paparan tertulis tidak selalu sama dengan corak dan gaya paparan lisan. Apa yang enak didengar, belum tentu enak juga dibaca.*

 

— Asep S. Muhtadi, Pakar Komunikasi, Dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN SGD Bandung; Kolomnis Tabloid Alhikmah. Tulisan ini Materi Diklat Jurnalistik Dakwah Bidang KIK Pusdai Jabar, 19-20 September 2008.*

 

Satu Tanggapan

  1. Saya sangat bersyukur kepada Alloh SWT yang telah banyak memberikan potensi yang dimiliki dalam diri manusia sebagai makhluk yang pandai berbicara.
    saya mau bertanya apakah dengan modal pandai berbicara hidup manusia akan terjamin bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.
    karena kalau saya cermati tidak sedikit para cendikia komunikasi/pakar komunikasi tidak bisa memberikan solusi yang baik dengan adanya permasalahan-permasalahan masyarakat yang saat ini terjadi.

    *Modal pandai berbicara saja belum cukup untuk menjamin seseorang memperoleh kebahagiaan hidup dirinya, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Ada potensi lain yang tidak kalah penting dan merupakan satu kesatuan. potensi itu adalah dzikir dan pikir. dalam segala aktivitasnya manusia hendaklah menyertakan keduanya, sehingga jika bicara tidak asal bicara tetapi senantiasa dipikirkan manfaatnya bagi dirinya dan orang lain. Senantiasa mengingat Allah (dzikir) akan memberikan ketenangan dan kedamaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: