Pernyataan Sikap Pusdai Jabar tentang ‘Kisruh’ Kuota Haji Jabar

Bismillahir rohmanir rohim.

Terkait terjadinya kisruh soal kuota haji di Jawa Barat, sehingga menimbulkan reaksi dari jamaah calon haji, seperti adanya aksi demonstrasi calon jamaah haji kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat baru-baru ini, dengan ini Pusat Studi dan Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai Jabar) menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mengusulkan kepada pemerintah agar pembagian kuota haji bukan semata-mata didasarkan atau diukur dari jumlah penduduk suatu daerah, tetapi juga didasarkan pada kualitas ekonomi penduduk masing-masing daerah. Dengan demikian, suatu daerah yang berpenduduk sedikit, tapi kualitas atau tingkat kehidupan ekonominya tinggi, bisa saja masyarakat yang mendaftar untuk beribadah haji jumlahnya lebih banyak daripada daerah yang jumlah penduduknya sedikit namun kualitas ekonominya rendah.

2. Kuota haji hendaknya terbagi secara merata kepada seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan jangan ada monopoli atau dominasi KBIH tertentu.

3. Terkait dengan peran KBIH. Alangkah lebih baik jika KBIH lebih transparan dalam melaksanakan perannya sebagai pembimbing ibadah haji. Hendaknya, KBIH tidak semata-mata menggunakan pendekatan bisnis, harus lebih bisa menahan diri untuk tidak mengedepankan ambisi atau “nafsu bisnis” untuk meraih keuntungan, tapi hendaknya selektif dalam menerima calon jamaah haji, dengan cara menyaring penduduk/jamaah yang mendaftar. Hanya pendaftar atau jamaah yang sudah menguasai manasik haji dengan benar dan baik yang diprioritaskan untuk pergi haji. Dengan kata lain, mengingat terbatasnya kuota haji, sebaiknya para calon jamaah haji diseleksi dulu dari segi penguasaan manasik, sehingga hanya yang lulus seleksi yang bisa diberangkatkan sesuai dengan kouta yang ada. Dengan demikian, kualitas dan kemabruran haji akan lebih terjaga karena jamaah sudah menguasai ilmu ibadah haji.

4. Dengan demikian, KBIH juga harus disentuh oleh pemerintah untuk dibina, agar mampu menjadi pelayan haji dengan baik, dan membantu jamaah dalam pelaksanaan ibadah haji yang berkualitas dan mabrur. Tegasnya, KBIH harus benar-benar menjadi fasilitator dalam meningkatkan kualitas kemabruran ibadah haji para jamaah.

5. Ibadah haji itu panggilan Ilahi. Hanya jamaah yang diundang oleh Allah Swt yang dapat melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu, jamaah yang gagal atau belum bisa segera berangkat ke tanah suci, hendaknya tidak usah emosional. Jika ada pemaksaan untuk pergi haji, hal itu bisa berarti “pemaksaan” kepada Allah agar diundang-Nya. Ibarat tamu tidak diundang memaksa datang, atau ibu hamil yang memaksa melahirkan padahal belum waktunya. Haji adalah ibadah, terjadi atas panggilan Allah semata, dan bukan gengsi sosial. Karena itu, bagi yang tidak bisa berangkat, sebaiknya bersabar dan bertawakal. Niat dan upaya untuk beribadah haji insya Allah sudat tercatat sebagai amal saleh di sisi Allah. Yang belum bisa berangkat haji, hakikatnya belum mendapat undangan dari Allah, bukan semata-mata karena soal aturan kuota. Wallahu a’lam.

Bandung, 20 Agustus 2008

Pusat Studi dan Dakwah Islam Jawa Barat

PUSDAI JABAR

ttd.

Drs. H. Zaenal Abidin, M.Ag

Ketua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: