Pernyataan Sikap Pusdai tentang Hukum Merokok

1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebaiknya mengeluarkan fatwa tentang merokok dengan tegas dan tidak diskriminatif. MUI juga harus melakukan kajian-kajian yang komprehensif tentang merokok dari berbagai aspek, termasuk dampak fatwa terhadap ekonomi dan sistem budaya, misalnya soal nasib ribuan buruk pabrik rokok dan petani tembakau.

2. Khusus untuk anak-anak, selain diperlukan fatwa atau peraturan tegas pemerintah, terutama bagi anak di bawah umur dan para pelajar, juga diperlukan kesadaran orangtua perokok untuk tidak memperlihatkan budaya merokoknya di depan anak-anaknya, termasuk menghapus kebiasaan menyuruh anak untuk membeli rokok..

3. Pemerintah sebaiknya tegas membuat peraturan tentang pelarangan merokok di kalangan anak-anak, terutama pelajar, dengan pertimbangan:
(a) aspek kesehatan, sangat jelas dan sering dikemukakan tentang bahaya merokok bagi kesehatan;
(b) aspek kemungkinan terbukanya pintu lebar di kalangan anak muda untuk menjadi pecandu narkoba;
(c) aspek disiplin kebersihan dan ketertiban di kalangan pemuda-pelajar, terutama di anak bawan umur, sebagai proses conditioning dalam rangka membiasakan mereka hidup lebih sehat dan bersih;
(e) aspek ekonomi, merokok di kalangan pelajar bisa menimbulkan kecenderungan terjadinya aksi kriminalitas akibat dorongan biaya untuk merokok;
(f) aspek sosial, yakni kenyamanan masyarakat, untuk menikmati udara segar tanpa polusi asap rokok;
(g) aspek teologi, merokok itu pekerjaan mubadzir, mengandung madorat lebih banyak ketimbang maslahatnya, antara lain karena setiap satu batang rokok pasti ada puntung yang terbuang.
4. Hal lain, proses perizinan pabrik-pabrik rokok dan pabrik lainnya yang menimbulkan dampak negatif baik dari aspek kesehatan, budaya, maupun agama, sebaiknya dipertimbangkan lebih matang, seperti pabrik minuman keras.

5. Sebagai proses conditioning menuju berkurang dan/atau berhentinya kebiasaan merokok di kalangan masyarakat, sebaiknya pemerintah mengadakan “gerakan bebas rokok” berupa mengajak masyarakat perokok untuk tidak merokok selama satu bulan penuh.

6. Pada bulan Ramadhan 1429, diharapkan para ulama, kyai, mubalig, ustadz, penceramah, dan para khotib mengkampanyekan budaya tidak merokok, minimal selama bulan Ramadhan siang maupun malam.

Bandung, 14 Agustus 2008
Pusdai Jabar
Drs. KH. Zaenal Abidin, M.Ag
Ketua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: