Kudeta Militer Landa Republik Islam Mauritania

MILITER Republik Islam Mauritania melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Sidi Muhammad Ould Cheikh Abdallahi, Rabu (6/8). Kudeta dilakukan setelah Presiden Abdallahi dan Perdana Menteri Yahya Ould Ahmed Waqef memecat empat orang pejabat militer negara di barat Afrika tersebut. Jurubicara kepresidenan melaporkan, dalam kudeta tersebut Presiden Abdallahi disandera sekelompok tentara saat berada di istana negara di ibukota Noukchott. Perdana Menteri Ahmed Waqef juga ikut ditangkap.

Pasukan militer langsung memenuhi jalan-jalan kota dan menguasai keadaan begitu kudeta dilakukan. Radio dan televisi lokal menyiarkan situasi setelah kudeta yang berjalan tanpa pertumpahan darah tersebut. Melalui siaran televisi lokal, jurubicara militer mengumumkan penetapan pemerintahan baru di bawah junta militer baru yang akan dipimpin Jendral Mohamed Ould Andel Aziz. Aziz adalah salah satu pejabat tinggi militer yang dipecat tanpa alasan jelas Rabu (6/8) pagi.

Dalam beberapa minggu terakhir, Presiden Abdallahi tengah menghadapi tuntutan legislatif yang menuding pemerintahannya buruk dan melakukan korupsi. Sebanyak 69 dari 95 anggota Parlemen Mauritania mendesak Abdallahi mundur dari jabatannya.Di negara republik Islam yang berada di ujung barat Gurun Sahara, Afrika, itu telah berkali-kali terjadi kudeta. Tidak kurang dari 10 kali kudeta terjadi sejak negara tersebut merdeka dari kekausaan Prancis tahun 1960. Penduduk Mauritania yang berjumlah sekitar 3,4 juta didominasi etnis Arab. Komandan pasukan pengawal Presiden Mauritania yang baru saja dicopot dari jabatannya, mengambilalih istana kepresidenan di Nouakchott, ibukota negeri itu, Rabu (6/8).
Kalangan Islamis di Mauritania mengecam kudeta yang dilakukan militer negeri itu terhadap Presiden Sidi Ould Cheikh Abdalallahi, presiden Mauritania pertama yang terpilih secara demokratis. Uni Eropa dan Afrika Utara juga mengecam kudeta tak berdarah itu.
Anggota parlemen dari kalangan Muslim Muhammad Jemil mengatakan, mereka menolak kudeta terhadap lembaga-lembaga yang konstitusional, terutama terhadap Presiden Abdallahi. “Kami mendukung legitimasi dan perubahan kekuatan yang damai dan tidak akan pernah mendukung kudeta apapun masalahnya, ” tukas Jemil.
Siaran radio nasional Mauritania menyebutkan kudeta itu dipimpin oleh Jenderal Abdul Aziz yang sekarang mengepalai Dewan Militer Negara. Jenderal itu bersama pasukan pengawal presiden yang loyal padanya, melakukan kudeta dengan mengambil alih istana kepresidenan di Nouakchott, ibukota Mauritania dan menangkap Presiden Abdallahi dan Perdana Menteri Yahya Ould Ahmed Waghf, hari Rabu (6/8).
Kudeta terjadi setelah Presiden Abdallahi mencopot sejumlah pejabat tinggi militer Mauritania karena dicurigai berada di balik berbagai krisis politik yang mengganggu stabilitas negeri itu. Abdallahi terpilih sebagai presiden Mauritania dalam pemilu yang demokratis tahun 2007, setelah masa transisi dari Dewan Militer yang pada tahun 2005 menggulingkan Presiden Maaouya Sid’Ahmed Taya juga dengan kudeta tak berdarah. Ironisnya, Jenderal Abdul Aziz dan kepala angkatan bersenjata Ould Cheikh Muhammad Ahmed, adalah anggota dewan transisi itu yang mengantarkan Abdallahi menjadi presiden Mauritania.
Mauritania, negara yang sebagian besar wilayahnya gurun pasir ini adalah negara bekas kolono Prancis dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta jiwa. Negeri ini tak henti dilanda krisis politik. Terakhir, 48 anggota parlemen menyatakan mundur dari partai yang berkuasa saat ini karena menganggap Presiden Abdallahi telah menyalahgunakan kekuasaannya dan mengecewakan rakyat Mauritania.
Kecaman atas kudeta militer di Mauritania juga dilontarkan Uni Eropa dan Uni Afrika. Dalam pernyataannya, Uni Afrika meminta agar legalitas konstitusional di negeri itu dipulihkan. Untuk itu, Uni Afrika mengirimkan seorang anggota komisi perdamaian dan keamanannya, Ramtane Lamamra ke Mauritania untuk memantau situasi dan membantu memberikan solusi damai di negeri itu.
Komisi Uni Eropa menyebut kudeta itu telah merusak kehidupan yang demokratis yang sudah mulai membaik di negeri itu sejak kudeta tahun 2005. Pejabat Bantuan Kemanusiaan Uni Eropa Louis Michel mengatakan, kudeta telah mengganggu rencana bantuan terhadap pemerintah Mauritania. Lembaga ini sudah berkomitmen untuk melaksanakan program bantuan tahun 2008-2013 sebesar 241 juta dollar untuk Mauritania.

Mauritania bernama lengkap Al-Jumhuriyah al-Islamiyah al-Muritaniyah (République Islamique de Mauritanie) atau Republik Islam Mauritania. Negara yang memiliki hubungan diplomatik penuh dengan Israel ini terletak di bagian barat laut Afrika.

Sidi Ould Cheikh Abdallahi menjadi presiden sejak memenangkan pemilihan presiden demokratis pertama yang digelar di negara ini pada Maret 2007. Abdallahi (69) adalah mantan menteri pemerintahan negeri. Ia didukung oleh koalisi dari 18 kelompok politik yang loyal pada mantan penguasa Ould Taya. Sikap tenangnya membuat lawan politiknya menuduh Abdallahi lemah. Sementara pendukungnya justru memuji kelembutan tabiatnya, sebagai sifat yang mereka sebut penting untuk pemimpin sebuah negara multietnis.

Sejak kepemimpinan Abdallahi, umat Islam Mauritania berharap akan ada perubahan situasi yang selama ini merugikan syiar Islam. Pasalnya, sejak menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Israel tahun 1999, rezim sebelum Abdallahi “kurang bersahabat” dengan rakyatnya yang mayoritas Muslim. Tahun 2003 misalnya, gara-gara isu dana bantuan dari Kelompok Alqaidah, pemerintah Abdallahi ektraketat mengawasi masjid. Pemerintah bahkan melarang ceramah agama di mesjid-mesjid serta mulai menangkapi para imam mesjid. Di antara ulama yang ditahan adalah Syekh Mohammed Al-Amin Ould Al-Hasan, salah seorang pemuka agama Islam terkemuka.

Penangkapan terhadap Ould Al-Hasan dilakukan sehari setelah otoritas pemerintahan di negeri itu menangkapi sejumlah imam dengan tuduhan menerima dana dari Alqaidah untuk menyebarkan ide-idenya. Pemerintah juga melarang penjualan kaset-kaset yang berisi khutbah dan ceramah keagamaan.

Islam sudah ada di negeri ini sejak berabad lampau. Tepatnya pada abad ke-11, yakni ketika Mauritania masuk menjadi bagian dari wilayah kesultanan Almoravid yang juga melingkupi kawasan Ghana, Maroko, Aljazair, dan sebagian Spanyol.

Abad XIII-XV, bangsa Maqil Bedouin menguasai Mauritania. Lantas abad XV, Portugis dan Spanyol berhasil membangun basis perdagangan di kawasan pantai negara ini. Mereka diikuti oleh kedatangan bangsa Prancis hingga berhasil menguasai secara penuh. Tahun 1920, Mauritania menjadi koloni Prancis sampai selanjutnya memperoleh kemerdekaan pada tanggal 28 Nopember 1960.

Jumlah populasi Mauritania mencapai lebih dari tiga juta jiwa. Sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Hanya sedikit dari mereka yang menganut agama Katolik Roma maupun Yahudi. Undang-undang secara tegas menyatakan bahwa Mauritania merupakan negara Republik Islam dan mengakui agama Islam sebagai agama resmi negara.

Berdasarkan laporan dari lembaga International Religious Freedom, pemerintah membatasi kebebasan beragama dengan melarang penyebaran material non-Islam. Pasal 11 menyatakan pelarangan terhadap barang publikasi dan material yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam atau yang mengancam prinsip Islam. Atas dasar ini, pada bulan Mei 2003, pemerintah membredel surat kabar berbahasa Arab, Al-Raya.

Pemerintah dan masyarakat menganggap, Islam merupakan elemen penting yang bisa menyatukan bangsa yang berbeda-beda etnis ini. Oleh karenanya, amat penting menjaga kebersamaan ini dengan salah satu upanyanya adalah mengakomodasi semua aspirasi dalam Dewan Tertinggi Umat Islam Mauritania. Dewan ini beranggotakan enam imam, yang salah satu tugasnya memberikan pertimbangan kepada pemerintah berdasarkan kajian agama. (Mel, berbagai sumber).*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: