Komunitas Katolik Internasional Bangun “Sekolah Damai” di Aceh

Komunitas Sant\'Egidio

Komunitas Sant'Egidio

KOMUNITAS Katolik internasional, Sant’Egidio, membuka “Sekolah Damai” di Aceh. Pesertanya anak-anak Muslim. Sant’Egidio juga membuka di beberapa propinsi. Sebuah tenda kanvas dekat terminal bus di Banda Aceh menjadi sebuah “Sekolah Damai”. Enam orang muda Katolik memimpin 15 anak Muslim berumur 6-12 tahun dalam berbagai kegiatan yang berorientasi pada nilai-nilai.

Anak-anak yang semuanya berasal dari keluarga miskin itu membawa tikar untuk dijadikan alas duduk selama pelajaran yang diadakan sekali dalam seminggu di bawah tenda berukuran 5×5 meter. Para anggota Sant’Egidio, sebuah komunitas awam Katolik internasional, setempat mendirikan “sekolah” itu pada Februari 2006 dan mengadakan pelajaran di sana sejak pukul 16.00 hingga 18.00 pada setiap Hari Sabtu. “Selama dua jam, kami mengajar anak-anak tentang arti damai, dan berhitung dan bernyanyi,” kata Maria, koordinator sekolah itu, kepada UCA News.
Ia menjelaskan, sekolah itu tidak memfokuskan akademik. Sebaliknya, “tujuan utama “Sekolah Damai” adalah membantu anak-anak menjadi sahabat, mengalami kebersamaan, dan menghormati yang lain.”

Maria, 26, menceritakan, para anggota Sant’Egidio mencari anak-anak itu, yang tinggal di gubuk-gubuk sekitar Banda Aceh, ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, di mana umat Muslim terdiri atas lebih dari 95 persen dari jumlah penduduk. Dikatakan, umat Katolik setempat mendukung sekolah itu.

Pastor Sebastianus Eka, seorang “sahabat rohani” komunitas Sant’Egidio setempat, menegaskan bahwa tujuannya agar anak-anak “bisa saling mengenal satu sama lain dan membangun persahabatan melalui sekolah itu.”

Imam itu, yang juga pastor pembantu Paroki Hati Mahakudus Yesus di Banda Aceh, sebagaimana dikutip UCA News, di hari terakhir dari pertemuan nasional para sahabat rohani Sant’Egidio yang berlangsung selama tiga hari. Tujuh uskup, 40 imam, dan 13 biarawati menghadiri pertemuan di Ciawi, Bogor, 45 kilometer selatan Jakarta, untuk memperingati 40 tahun berdirinya komunitas Sant’Egidio tersebut.

Selama pertemuan itu, Uskup Koadjutor Frosinone-Veroli-Ferentino, Italia, Mgr Ambrogio Spreafico, Direktur Spiritual Sant’Egidio, berbicara tentang spiritualitas komunitas itu. Peserta juga mengadakan sharing dan refleksi tentang pengalaman mereka dalam berkarya, dan membahas karya mereka dengan orang-orang miskin dan kebahagiaan spiritual. Tema pertemuan itu adalah “Kasih-Nya Tiada Batas.”

Berkembang ke Indonesia
Komunitas Sant’Egidio dimulai di Roma tahun 1968 dan dikenal atas karyanya bagi orang miskin dan upayanya dalam meningkatkan ekumene, dialog antaragama, perdamaian, dan hak asasi manusia. Gerakan itu kini memiliki lebih dari 50.000 anggota di lebih dari 70 negara termasuk Indonesia, di mana komunitas itu memiliki 300 anggota di 15 komunitas.

Menurut Pastor Eka, “Sekolah Damai” di Aceh menanamkan solidaritas dalam diri anak-anak. Misalnya, katanya, sekolah ini mendorong mereka untuk mengunjungi teman yang sedang sakit dan membantu teman yang membutuhkan, misalnya meminjamkan alat tulis. Imam itu menambahkan bahwa selama bulan Ramadhan, sekolah itu mengadakan acara buka puasa bersama.

Pastor Eka mengklaim, umat Muslim setempat menyambut baik sekolah itu karena mereka paham bahwa sekolah itu tidak memperkenalkan unsur-unsur agama. “Komunitas Sant’Egidio tidak hanya untuk umat Katolik, namun bagi semua orang. Kami melayani secara sukarela dan tidak mengharapkan sesuatu dari mereka,” jelasnya. Nama sekolah itu, lanjutnya, dipilih untuk menekankan upaya-upaya komunitas itu dalam meningkatkan perdamaian.

Komunitas Sant’Egidio di Indonesia juga mengelola “Sekolah Damai” di Jakarta, yang mengadakan pelajaran setiap Hari Minggu mulai pukul 10.30 hingga 12.00 di sebuah halaman sekolah Katolik. Lebih dari 10 orang muda Katolik mengajar 150 anak miskin berumur 5-12 tahun tentang nilai persahabatan melalui berbagai kegiatan seperti permainan dan nyanyian.

“Kami memberi tangan kepada setiap anak sehingga mereka mampu merasakan uluran kasih. Kami memberikan keyakinan bahwa mereka dihargai dan dikasihi,” katanya. Seperti di Aceh, sekolah itu juga mengadakan acara buka puasa bersama selama bulan Ramadhan untuk anak-anak Muslim. Selain itu, kata Winarko, sekolah di Jakarta itu mengadakan piknik sekali dalam setahun ke sebuah taman rekreasi untuk semua anak — Buddha, Katolik, Muslim, dan Protestan. “Sekolah Damai,” tegasnya, “adalah perpanjangan tangan Yesus yang menyayangi anak-anak.”

Selain Banda Aceh dan Jakarta, kihi, komunitas Sant’Egidio sudah ada di Atambua, Denpasar, Duri, Kefamenanu, Kupang, Maumere, Medan, Nias, Padang, Pekan Baru, Pontianak, Semarang, dan Yogyakarta dengan sekitar 300 anggota. (UCANews/hidayatullah.com).*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: