Perjanjian ‘Dihianati’, Kedamaian Muslim Moro Hanya Ilusi

KEDAMAIAN kaum Muslim Filipina di enam provinsi otonom di wilayah selatan Mindanao nampaknya masih terus tak ada kejelasan. Setelah Ahad (3/8) pemerintah dan kaum Muslim Moro menyepakati perjanjian masalah wilayah dan hak otonomi Muslim, tiba-tiba Mahkamah Agung Filipina, Senin (4/8), membatalkan penandatanganan perjanjian tersebut. Semula perjanjian damai ini disepakati sebagai upaya pemerintah untuk mengakhiri perseteruan berdarah di daerah tersebut. Perjanjian yang disepakati bulan lalu itu berisi perluasan enam provinsi otonom mayoritas Muslim di wilayah selatan Mindanao.

Rencananya, pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) akan menandatangani perjanjian tersebut, Selasa (5/8), di Malaysia. Akan tetapi, rencana itu menimbulkan protes dari kelompok mayoritas. MILF telah melakukan “perlawanan” selama puluhan tahun di kawasan ini. Seorang juru bicara presiden Jesus Dureza mengatakan tidak akan ada penandatangan hari Selasa, walaupun penghentian itu dilaporkan sementara. Sejumlah masalah masih harus diselesaikan, walaupun perjanjian itu dianggap sebagai terobosan untuk menghentikan konflik yang telah menelan sekitar seratus ribu orang.

Juru bicara lembaga peradilan tersebut, Midaz Marquez, mengatakan, Mahkamah Agung memutuskan untuk menunda setelah sejumlah politisi kelompok mayoritas di Provinsi Cotabato Utara menentang penandatanganan tersebut karena pemerintah tidak menjelaskan isi perjanjian. Politisi kota Zamboanga, misalnya, mengajukan petisi serupa.

Kelima belas hakim Mahkamah Agung secara bulat memerintahkan kelompok politisi mayoritas dan pemerintah untuk menjelaskan argumen mereka pada tanggal 15 Agustus mendatang. Sementara itu, Jaksa Agung diminta untuk menyerahkan salinan perjanjian tersebut. “Mahkamah akan mencari permasalahan sesungguhnya sebelum menjatuhkan keputusan. Jadi, kami saat ini memilih bersikap status quo,” ungkap Marquez dalam konferensi pers.

Kantor Berita BBC memberitakan, ribuan warga Katolik melakukan demonstrasi di dua kota Filipina selatan hari Senin, sehari setelah pengumuman perjanjian. Walikota ZamboangaCelso Lobregat, hari Senin, memimpin 3.000 orang dalam sebuah protes di dewan kota. Toko-toko yang biasa menjadi sasaran serangan kelompok Muslim ditutup selama sehari. Pemrotes memegang spanduk bertuliskan, “Gloria, Jangan Menjual Kami.” Mereka memohon kepada Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo untuk membatalkan perjanjian tersebut.

Para politisi Katolik di Filipina selatan telah mendesak Mahkamah Agung untuk menghentikan upacara penandatanganan itu. Menurut mereka, perjanjian itu belum dibicarakan dengan mereka. Menurut para politisi Katolik, penandatanganan perjanjian perdamaian tersebut dapat menimbulkan kekerasan sektarian baru. Bagi kaum Katolik, langkah perjanjian itu akan membentuk daerah kantung Muslim Mindanau.”Jangan membangun tembok Berlin diantara orang Mindanau,” kata Celso Lobregat, walikota Zamboanga, di depan sekitar 10.000 orang.

Mahkamah Agung meminta kedua belah pihak untuk mengajukan kasusnya pada tanggal 15 Agustus.Perjanjian itu dimaksudkan untuk secara resmi membuka kembali proses perdamaian guna mengakhiri konflik hampir 40 tahun. Kepala Militer Jenderal Alexander Yano menegaskan, pihaknya akan menghadapi berbagai ancaman yang dilancarkan oleh sekelompok orang yang tidak puas dengan keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan rencana perjanjian damai itu.

Penasehat proses perdamaian kepresidenan Hermogenes Esperon, yang juga mantan kepala militer, menyangkal tuduhan bahwa pemerintah menyerahkan wilayah selatan Filipina kepada kelompok pemberontak Muslim. “Tidak ada kedaulatan yang diberikan. Hal ini demi Mindanao dan negara. Lebih baik melakukan dialog daripada berperang,” katanya.

Tak lupa, pejabat Amerika Serikat (AS) juga ikut-ikutan berkomentar. Bagi AS, menurut perjanjian perdamaian ini dapat mengubah kawasan selatan Filipina yang kaya akan sumber alam dari menjadi pusat ekonomi.

Sekitar 15.000 masyarakat Filipina menggelar aksi protes di kota pelabuhan Zamboanga, selatan negara itu. Mereka menentang kesepakatan pemerintah dengan kelompok pejuang Muslim Moro Islamic Liberation Front (MILF). Ribuan pengunjuk rasa, mayoritas warga non-Muslim menentang penandatanganan itu. Dengan membawa spanduk bertuliskan “MILF go home”, mereka memblokade jalan menuju gedung Dewan Kota Zamboanga dan meneriakkan kata-kata yang mengungkapkan kemarahan mereka atas kesepakatan tersebut. Sejumlah pemuka Gereja Katolik dan pejabat pemerintahan kota, ikut dalam aksi massa itu.

Sebelum ini, warga Filipina yang menentang sudah mengajukan dua petisi ke Mahkamah Agung yang isinya meminta pemerintah Filipina tidak menandatangani kesepakatan dengan MILF. Kesepakatan itu menetapkan wilayah Mindanao akan menjadi bagian dari wilayah Muslim dan pemerintahannya akan dikendalikan oleh warga Muslim. Pemerintah Filipina akan memberikan otoritas penuh bagi warga Muslim Mindanao untuk mengelola bank sendiri, mengatur sistem pendidikan sendiri, termasuk membentuk pasukan keamanan sendiri.

Meski berada di wilayah Mindanao, walikota Zamboanga yang beragama Kristen, Celso Lobregat menegaskan tidak akan membiarkan wilayahnya dimasukkan ke dalam wilayah negara Muslim. (ln/cna

Selama ini, Muslim Moro sering dipojokkan melakukan pelatihan dan selalu dihubungkan dengan Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah, meski, mereka berkali-kali melakukan bantahan.

Kaum Muslim Moro telah berperang selama 469 tahun untuk menjaga keimanan dan identitas mereka serta merebut kemerdekaan mereka yang terampas. Kaum Muslim di bagian Selatan Filipinadengan mayoritas pemeluk Islam ini sejak 1972 menuntut kemerdekaan dan ingin menentukan sendiri nasibnya. Namun, pemerintah setempat menjawabnya dengan senjata.

Sudah ratusan masjid hancur oleh serangan militer, ribuan kaum Muslim jadi korban. Menurut catatan, lebih dari 120.000 umat Islam telah menjadi korban. Dengan pembatalan sepihak ini, janji damai bagi umat Islam untuk mendapatkan “tanah air Bangsa Moro” yang damai, mungkin hanyalah sebuah ilusi. (islamonline/hidayatullah.com).*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: