Gugat Cerai oleh Istri, QS?

* Konsultasi Islam via SMS 081320746635.
* Dimuat di Buletin USWAH Pusdai Jabar yang terbit tiap Jumat.

 

Bagaimana hukumnya jika istri menggugat cerai suami, QS berapa?

Hadits Rasululllah Saw, “Sesungguhnya perbuatan mubah tapi dibenci Allah adalah talak (cerai)”. Namun, bila kondisinya darurat (terpaksa), maka jalan tersebut (cerai) diperbolehkan.

Ada beberapa kemungkinan dalam kehidupan rumahtangga yang dapat memicu terjadinya perceraian. Salah satunya adalah adanya nusyuz yang bermakna kedurhakaan. Kemungkinan nusyuz tidak hanya datang dari istri, tetapi dapat juga datang dari suami. Selama ini sering dipahami, nusyuz hanya datang dari pihak istri. Kemungkinan suami nusyuz dapat terjadi dalam bentuk kelalaian dari pihak suami untuk memenuhi kewajibannya pada istri, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.

QS. An-Nisa’/4: 128 menganjurkan perdamaian. Istri diminta untuk lebih sabar menghadapi suaminya dan merelakan hak-haknya dikurangi untuk sementara waktu agar perceraian tidak terjadi. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat, jika suami melalaikan kewajiban dan istrinya berulangkali mengingatkannya, namun tetap tidak ada perubahan baik, maka taklik talak adalah jalan terbaik untuk melindungi kaum wanita.

 

Jadi, gugat cerai atau khulu’ adalah perceraian yang terjadi atas permintaan istri, dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suami.
Secara tekstual dalam Al-Qur’an, istilah gugat-cerai tidak ditemukan. Namun, QS. An-Nisa’/4: 128 di atas dipahami oleh sebagian ulama dibolehkan untuk melakukan gugat-cerai terhadap suami jikaa berorientasikan pada kebaikan (mashlahat). Wallahu a’lam bissawab.

Bagaimana jika suami istri yang sudah bercerai tetapi masih tinggal dalam satu rumah? 08185564xxx

Akad perkawinan dalam hukum Islam bukanlah perkara perdata semata, melainkan ikatan suci (misaqan galiza) yang terkait dengan keyakinan dan keimanan kepada Allah. Dengan demikian ada dimensi ibadah dalam sebuah prkawinan yaitu dengan tujuan keluarga sejahtera (mawaddah warahmah). Namun seringkali apa yang menjadi tujuan perkawinan kandas diperjalanan. Konsekuensinya ia dapat dilepas yang kemudian disebut dengan talak (cerai).

Makna dasar dari talak itu adalah melepaskan ikatan atau melepaskan perjanjian. Artinya semua janji yang telah di ucapkan pada waktu aqad nikah menjadi batal atau pihak suami atau istri tidak ada lagi hubungan lahir dan bathin yang dapat menghalalkan perbuatan sesuatu seperti ketika masih berstatus suami-istri. Baik pihak suami atau istri dibolehkan menikah lagi dengan yang lain. Oleh karena itu, pada situasi tersebut tidak diperbolehkan berdiam satu rumah (karena statusnya bukan muhrim lagi). Atau, kalaupun demikian labih baik atau disarankan melakukan rujuk kalau pihak keduanya masih ingin bersama termasuk bersama satu rumah.*

 

Tidak Sholat 3 Bulan

 

Ayah saya adalah orang yang taat beribadah, tapi kali ini beliau stroke. Apa hukumnya jika beliau tidak pernah lagi shalat selama 3 bulan karena ingatannya belum pulih dan kondisi tubuhnya masih lumpuh sebelah? Nuhun 081573705xxx

Ibadah shalat merupakan syari’at yang wajib dilaksanakan oleh setiap manusia yang telah aqil baligh. Ibadah shalat merupakan doktrin normatif yang tidak bisa ditawar-tawar. Artinya, dalam kondisi apa pun (sakit, sehat, safar, dan sebagainya) tidak ada toleransi atau alasan untuk meninggalkan shalat. Kecuali beberapa kondisi di mana seseorang tidak terkena kewajiban untuk melakukannya. Sabda Rasulullah Saw :

 

”Tiga kondisi orang yang diangkat kewajibannya, yaitu anak kecil sehingga dia dewasa, orang gila (lupa ingatan) sehingga dia sadar, dan orang yang sedang tidur hingga dia bangun dari tidurnya.”

Ada beberapa keringanan (rukhsoh) bagi seseorang dalam kondisi tertentu, yaitu sedang sakit, safar. Keterangan hadits : ”Shalatlah sambil beridiri, apabila tidak mampu maka sambil duduk, apabila tidak mampu maka sambil berbaring”.

Dalam kondisi sakit bisa melakukanya dengan gerakan atau isyarat rukun shalat yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuannya. Serta dalam melakukan wudlunya pun bisa dengan melalui tayamum.

Seperti apa yang dialami oleh orang tua saudara/i, selama ia menyadari perilakunya, yaitu mampu membedakan mana prilaku yang benar dan salah, maka masih terkena kewajiban untuk melakukan ibadah shalat, namun bisa melakukannya dengan rukhsoh (keringanan) sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis di atas. Waalluhu a’lam.*

2 Tanggapan

  1. wah mudah2 hal tersebut tdk terjadi pada saya, nauzubillah

  2. ass.Pak ustad,saya mau nanya.saya punya istri dan 2 orang anak,dulu kami pernah bercerai dan rujuk,sekarang kami cerai lagi.tp kami belum mengurus ke pengadilan agama.dan perceraian saya baru bulan.masih dalam masa iddah.saya sekarang sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mantan istri saya.saya menikah dengan seorang gadis yang mana sekarang sedang hamil 3 bulan.pernikahan saya tanpa restu dari ortu saya.terus terang saya masih mencintai istri saya dan anak2 saya.begitupun dengan istri saya.kami sekarang masih sering ketemuan.istri saya tdk tau kalau saya sudah menikah lagi.yang ingin saya tanyakan :
    1.apa yang harus saya lakukan sekarang ini?
    2.apakah pernikahan saya sah dengan istri ke 2?
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: