Retorika Da’wah

DALAM sebuah kesempatan di depan ribuan pemuda dan jamaah di masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Jum’at 15 Oktober 1999, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi pernah mengatakan, “Insya Allah, masa depan Islam yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hiang di tangan kita, kejayaan yang pernah kita miliki seribu tahun yang lalu, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap, bahwa Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini.” Ungkapan ini lahir karena melihat keterpurukan yang ada dan mewabah di seluruh dunia Islam.

Ada secercah harapan kebangkitan Islam dari dunia Timur. Harapan tersebut diberikan kepada umat Islam di Indonesia untuk memimpin dunia Islam lainnya.

Mekanisme terbaik untuk mengejawantahkan harapan besar tersebut adalah dengan memobilisasi masyarakat untuk kembali kepada agama Allah secara berkelanjutan. Untuk itu diperlukan pembinaan matang bagi penyeru kebenaran. Dalam hal ini seorang da’i. Dakwah dengan lisan dan tulisan menduduki posisi strategis di samping dakwah dengan media lainnya. Seorang da’i dituntut memiliki kemampuan memobilisasi objek dakwah. Salah satu faktor terpenting untuk memobolisasi masa dengan menguasai retorika.

Seni Retorika
Retorika adalah suatu istilah tradisional yang diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun dengan baik. Jadi ada dua aspek yang perlu diketahui seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik, serta yang kedua, pengetahuan mengenai obyek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi.
Pengetahuan bahasa dibutuhkan untuk menyampaikan gagasan secara lugas, menarik dan mudah dimengerti oleh objek dakwah. Mengetahui seluk-beluk bahasa dengan baik akan mempermudah seorang da’i untuk memformat materi yang ada dipikirannya dan disampaikan secara segar, dan sesuai dengan keinginan pembacanya.

Hal yang terpenting dalam penguasaan bahasa adalah efektifitas dalam setiap kalimat yang dikeluarkan, keindahan gaya bahasa dan pemilihan diksi yang tepat. Di antaranya: ketepatan pengungkapan, penggunaan bahasa kiasan yang serasi, keefektifan struktur kalimat, penampilan yang sesuai dengan situasi, dan sebagainya.

Sementara pengetahuan kondisi obyek dakwah akan memudahkan seorang da’i memilih bahasa yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada di hadapannya. Dalam peribahasa sering kita mengenal ungkapan: “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kondisi obyek dakwah terpenting yang harus diketahui di sini adalah karakter yang dimiliki serta adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku.

Menurut sejarah perkembangannya, retorika mula-mula tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad V dan VI sebelum Masehi. Menurut pengertiannya yang asli, retorika adalah sebuah telaah atau studi simpatik mengenai oratoria atau seni berpidato. Orang pertama yang dianggap memperkenalkan oratori atau seni berpidato adalah orang Yunani Sicilia. Tetapi tokoh pendiri sebenarnya adalah Corax dari Sirakusa (500 sebelum Masehi).

Ilmu retorika kemudian berkembang di zaman Yunani sesuai dengan tuntutan keadaan pada masa itu yang belum mengenal fasilitas telekomunikasi modern. Seorang yang ingin menyampaikan gagasannya kepada orang banyak hanya bisa dilakukan dengan lisan. Ilmu retorika lebih dititikberatkan pada seni berpidato. Karya terpenting dari zaman Yunani tentang ilmu retorika ditulis oleh Aristoteles (384-322 sebelum Masehi) yang berjudul Rhetorica. Ilmu retorika setelah Yunani runtuh kemudian berpindah ke Romawi seiring dengan perpindahan para budak dari daerah yang dikuasai Yunani menuju Romawi.

Secara umum, metode retorika yang diajarkan orang-orang Yunani dan dikembangkan oleh orang-orang Romawi dikenal dengan sebagai metode retorika tradisional. Di masa ini ilmu retorika terbagi ke dalam lima bagian penting:
1. Inventio atau Heresis: penemuan atau penelitian materi-materi. Langkah ini sebenarnya mencakup kemampuan untuk menemukan, mengumpulkan, menganalisa, dan memilih materi yang cocok untuk pidato. Menurut Aristoteles argumen-argumen harus dicari melalui rasio, moral, dan afeksi.
2. Dispositio atau Taxis atau Oikonomia: penyusunan dan pengurutan materi (argumen) dalam sebuah pidato.
3. Elocutio atau Lexis: pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai. Ada tiga hal mendasar di dalamnya: komposisi, kejelasan, dan langgam bahasa dari pidato; kerapian, kemurnian, ketajaman, dan kesopanan dalam bahasa; kemegahan hiasan pikiran dengan upaya retorika.
4. Memoria atau Mneme: menghafalkan pidato, yaitu latihan untuk mengingat gagasan-gagasan dalam pidato yang sudah disusun.
5. Actio atau Hypokrisis: menyajikan pidato. Penyajian yang efektif dari sebuah pidato akan ditentukan juga oleh suara, sikap, dan gerak-gerik.

Ilmu retorika kemudian berkembang tidak sekedar sebagai seni menyampaikan gagasan secara lisan, tapi termasuk di dalamnya penyampaian gagasan secara tertulis. Ketika budaya tulis-menulis dikenal dunia. Ilmu retorika kemudian bersinergi dengan ilmu kesusasteraan.

Di abad pertengahan seni retorika bersama ilmu tata bahasa dan ilmu logika (dialektika) membentuk satu kesatuan cabang ilmu. Hal ini terjadi karena tuntutan perkembangan zaman, makin meminimalisir penggunaan bahasa secara lisan. Dengan dikenalnya seni tulis-menulis, ilmu retorika dalam arti sempit sebagai seni berpidato kurang diminati. Tulisan dinilai lebih efektif dibanding bahasa lisan.

Dalam retorika modern, batasan retorika merupakan konvergensi antara seni bahasa lisan dan tertulis. Retorika diistilahkan sebagai: “cara pemakaian bahasa sebagai seni—baik lisan maupun tertulis—yang didasarkan pada suatu pengetahuan atau suatu metode yang teratur atau tersusun baik.”

Retorika modern lebih menitikberatkan arus komunikasi efektif dan efisien antara sumber informasi dan yang mengkonsumsinya. Efektif berarti pikiran utuh sumber informasi dapat diterima dengan utuh oleh orang lain. Sedangkan efisien berarti media atau alat yang dipakai untuk menyampaikan gagasan atau pikiran dapat membawa hasil yang sebesar-besarnya. Berdasarkan hal ini, retorika modern lebih menitikberatkan kepada penguasaan seni tulis-menulis, tanpa mengabaikan bahasa lisan.

Diwujudkan dengan menerapkan beberapa prinsip dasar:
1. Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif, semakin mampu memilih kata-kata yang tepat dan sesuai untuk menyampaikan pikiran.
2. Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan penulis mempergunakan bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang berbeda-beda. Kaidah-kaidah ketatabahasaan ini meliputi bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.
3. Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa, dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih menarik perhatian pembaca dan lebih memudahkan penyampaian pikiran penulis.
4. Memiliki kemampuan penalaran yang baik, sehingga pikiran penulis dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.
5. Mengenal ketentuan-ketentuan teknis penyusunan komposisi tertulis, sehingga mudah dibaca dan dipahami, di samping bentuknya dapat menarik pembaca.

Kemampuan Menyihir Publik
Seni retorika bertujuan untuk memobilisasi publik sesuai dengan pikiran penulis atau pembicara. Ukuran minimal berhasilnya sebuah mobilisasi dilihat dari pembenaran pembaca atau pendengar terhadap apa yang disampaikan lewat bahasa lisan atau tertulis. Untuk itu dibutuhkan beberapa sarana praktis sebelum bertemu dengan publik, di antaranya:

1. Persiapan Mental
Untuk mempengaruhi publik, seorang pembicara harus mempersiapkan kekuatan mental yang prima. Materi yang disampaikan oleh seorang yang penuh keyakinan akan sangat mempengaruhi pola pikir pembacanya. Sebaliknya, kondisi mental yang lemah, akan sangat mempengaruhi alur bicara, sekalipun yang disampaikan adalah kebenaran.

Keyakinan akan luntur ketika muncul rasa takut. Rasa takut yang muncul ketika berhadapan dengan publik bisa terjadi karena beberapa hal. Di antaranya: pengalaman buruk kegagalan sebelumnya, kondisi pendengar yang terkesan acuh dan tidak agresif, memperhatikan sebagian pendengar yang bertindak aneh, atau kondisi takut terbangun dari lingkungan di sekitar kita. Untuk itu pembicara yang mampu menaklukan publik adalah yang berhasil mengatasi ketakutan berhadapan dengan publik dan tidak terpengaruh dengan tanggapan yang diberikan oleh pendengar. Dr. Akram Ridha menukil dari seorang filosof barat, empat hal pokok yang menciptakan pembicara produktif:

Mulai dengan idealisme besar.
Mengetahui materi yang akan disampaikan.
Menyampaikan dengan penuh keyakinan.
Latihan terus-menerus.

2. Persiapan Materi
Persiapan mental tanpa didukung penguasaan materi yang baik tidak akan mempengaruhi publik. Justru sebaliknya pembicara hanya akan menjadi tontonan gratis tanpa bisa mempengaruhi publik. Seorang pembicara apalagi diharuskan mengetahui materi-materi pokok yang akan disampaikannya. Terkhusus bagi seorang da’i yang ingin mengajak masyarakat kembali kepada Islam, ia terlebih dahulu harus memiliki pemahaman integral tentang Islam. Banyak literatur yang berusaha mengumpulkan bahan-bahan utama yang harus dikuasai seorang da’i. Di antaranya buku “Tsaqâfah Ad-Dâ’iyah” karangan Syaikh. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, dan sebagainya. Buku-buku tersebut mengantarkan kita memahami tema-tema penting, buku-buku dasar rujukan dalam setiap tema, dan teknik menyusun dan menjabarkan tema yang akan disampaikan.

Di samping itu, materi yang baik mengandung unsur-unsur penguat, sehingga pendengar atau pembaca dapat yakin. Pembaca atau pendengar membutuhkan pembuktian materi dari sumber-sumber yang otentik dan terpercaya. Maka seorang da’i khususnya, perlu menyertakan dalil-dalil dengan urutan sebagai berikut: (1) dari Al-Quran, (2) dari Hadits yang sahih, (3) ungkapan-ungkapan ulama salaf, (4) ungkapan ulama-ulama kontemporer, (5) ditambah sajak dan kata-kata hikmah.

3. Penguasaan Mimbar
Setelah menyiapkan mental dan memperkaya dengan materi yang dibutuhkan, tiba saatnya untuk tampil ke depan publik. Pada saat ini ada teknik yang harus diperhatikan, sehingga penyampaian dengan berbekal mental dan materi tidak membosankan. Suasana dapat terasa hidup, sehingga pendengar selalu antusias dari awal sampai akhir. Ada beberapa teknik mendasar, di antaranya:
1. Selalu mengarahkan pandangan ke setiap yang hadir.
2. Berkonsentrasi penuh terhadap tema sentral yang sedang disampaikan.
3. Mengikutkan pembaca untuk merasuk ke dalam tema pembicaraan.
4. Menghadapkan badan secara penuh mengikuti pandangan kepada yang hadir.
5. Mengkalkulasi poin-poin penting yang menjadi tema pembicaraan.
6. Memperkaya poin-poin tersebut.
7. Mengakhiri setiap pembicaraan dengan kesimpulan singkat dan sederhana sehingga bisa diingat oleh yang hadir.
8. Ditutup dengan kalimat akhir yang menarik.

4. Latihan yang Teratur
Kemampuan untuk menyihir publik dengan bahasa lisan atau tulisan tidak akan lahir dengan sendirinya. Seorang yang mengetahui teknik berpidato dengan baik dalam kerangka teroritis belaka tidak akan pernah mampu menjadi seorang orator yang baik tanpa praktek yang berkesinambungan. Di sinilah diperlukan latihan yang terus-menerus. Kegagalan dalam praktek pada hakikatnya adalah kesuksesan yang tertunda. (saharajihad.com).*

Satu Tanggapan

  1. thanks 4 giving me the information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: