Kita Memang Harus Sabar

DALAM sebuah hadits, Rasulullah mensinyalir akan datang suatu masa ketika para pemimpin hanya mementingkan diri dan kelompoknya. Jika kita mengalami masa itu, Rasul menegaskan: “Bersabarlah kalian hingga menemuiku kelak di akhirat”.

Saat ini masa yang diprediksi Rasul itu tampaknya tengah kita alami. Banyak pemimpin kita hanya peduli pada diri sendiri dan kelompoknya. Salah satu faktornya, para pemimpin itu masih harus mengumpulkan banyak uang, demi menebus “utang” kampanye politik sebelum menjadi pemimpin. Maklum, saat ini, di negeri ini, untuk menjadi seorang pemimpin, mulai dari walikota, anggota dewan, hingga presiden, harus mengeluarkan “ongkos politik” (political cost), bahkan tidak sedikit (kalau tidak selalu) yang melakukan “politik uang” (money politic) alias suap dan jual-beli suara. Akibatnya, begitu menjabat, yang dipikirkan pertama kali adalah bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak mungkin guna menutup utang ongkos politik yang sudah dikeluarkan, sekaligus mengumpulkan “bekal” untuk pemilu yang akan datang.

Tidak heran, kini kasus korupsi, kolusi, dan suap marak terjadi. Kian hari kian banyak anggota dewan “yang terhormat” tertangkap tangan menerima suap atau melakukan korupsi. Parahnya lagi, justru kasus suap marak di kalangan penegak hukum, seperti di Kejaksaan Agung. Apakah para jaksa juga harus melakukan suap untuk meraih jabatan tertentu dan memenangkan kasus di pengadilan? Mafia peradilan tampaknya nyata ada.

Di sisi lain, rakyat kian menjerit dengan melambungnya harga-harga kebutuhan hidup. Terbaru adalah kenaikan harga BBM yang diikuti oleh berbagai kenaikan harga barang, mulai sembako, ongkos angkutan, hingga gas elpiji. Di tengah kesulitan hidup yang dialami rakyat banyak itu, justru ironisnya berbagai kasus korupsi dan suap di kalangan pejabat terbongkar.

Jadi, kita memang harus bersabar. Namun, tentu sabar bukan berarti diam atau pasif. Kita harus bersabar, menahan amarah, dengan tingkah pejabat yang korup, sambil terus berusaha melakukan koreksi dan langkah hukum untuk memberi sanksi seberat-beratnya kepada para koruptor itu. Kita harus bersabar menempuh “prosedur hukum” demi tegaknya keadilan. Kita juga harus bersabar untuk terus melakukan upaya menghentikan kemunkaran yang marak terjadi di sekitar kita, termasuk tindak korupsi dan suap itu.

Sabar, kata Rasulullah dalam hadits lainnya, terdiri atas tiga kategori. Pertama, sabar dalam menjauhi kemaksiatan (ash-shabr ‘alal ma’shiyah). Godaan untuk melakukan pelanggaran atas hukum Allah sangat tinggi, termasuk godaan untuk melakukan suap dan korupsi itu. Dipastikan, jaksa agung dan para anggota DPR yang melakukan korupsi adalah orang-orang yang tidak sabar. Setengah imannya lepas ketika melakukan korupsi tersebut, sebab kata Rasulullah, sabar itu separuh iman (ash-shabr nisful iman).

Kedua, sabar dalam menghadapi musibah (ash-shabr ‘alal mushibah). Musibah adalah ujian bagi kaum mukmin, adzab bagi kaum kafir. Bencana alam adalah ujian bagi kaum mukmin, adzab bagi kaum kafir. Pejabar korup adalah ujian bagi kaum mukmin, adzab bagi mereka yang telah salah dalam memilih pemimpin.

Ketiga, sabar dalam ketaatan (ash-shabr ‘alath tha’ah). Melaksanakan perintah Allah sangat berat tantangan dan godaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran dalam mengatasi berbagai tantangan dan godaan tersebut.

Barangkali, maraknya korupsi dan suap di kalangan pejabat negara atau pemimpin, juga merupakan peringatan bagi rakyat negeri ini agar lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan dalam pemilu atau pilkada. Lebih mendasar lagi, kita telah salah karena membiarkan terus sistem yang berlaku di negeri ini bukan sistem Islam, namun sistem thogut yang sudah terbukti batil.

Anehnya, umat Islam sendiri masih banyak yang alergi pada sistem Islam (syariat Islam). Padahal, ajaran Islamlah yang nyata sesuai dengan fitrah manusia. Banyak orang sudah mengakui keunggulan sistem ekonomi syariah, seperti perbankan syariah, tapi mengapa ketika syariah (Islam) akan masuk ke wilayah politik, banyak yang menentang, termasuk kalangan tokoh Islam, bahkan di antara mereka banyak yang mengaku ulama? Bukankah ulama hanya takut kepada Allah? Innamaa yakhsyallaaha min ‘ibaadihil ‘ulama…. Kita memang harus bersabar. Wallahu a’lam.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: