‘Jamaah Haji adalah ‘Aktor’’

dedem_ruchliaJamaah haji adalah “aktor” untuk menjalankan “peran” berbeda dalam prosesi ibadah haji. Mereka melakukan napaktilas perjalanan dan perjuangan dakwah keluarga Nabi Ibrahim a.s.

Demikian dikemukakan Ketua Yayasan Darma Asri (YDA), Drs. H. Dedem Ruchlia, MSi. dalam  acara Pembinaan Karyawan dan Pelepasan Empat Karyawan YDA Calon Jamah Haji 1429 H, di Ruang Seminar Besar Pusdai Jln. Diponegoro 63 Bandung, Selasa (11/11/2008).

Pada acara yang sama, Ketua Bidang Pelayanan, Ibadah, dan Haji (PIH) Pusdai Jabar, Drs. H. Ahmad Juwaena, MPd. menyampaikan ceramah/taushiyah yang disebutnya “kutil” (kuliah tiga belas menit). Dikatakannya, “penghajian”, yakni pemberangkatan karyawan untuk beribadah haji, merupakan bagian dari program YDA/Pusdai untuk meningkatkan kualitas SDM.

Menurutnya, haji merupakan panggilan Allah Swt. “Semua umat Islam diseru oleh-Nya untuk menunaikan ibadah haji.” tegasnya. Namun, imbuhnya, ada tiga persyaratan yang harus dimiliki untuk dapat memenuhi panggilan itu, yakni kemauan, kemampuan, dan kesempatan. “Jamaah haji harus perbanyak istigfar di tanah suci,” sarannya. (Mel).*

‘Pusdai Harus Kaji Isu Islam Aktual dan Bina Mualaf’

Yogi/Pusdai).*

HR Nuriana bersama Ketua Yayasan Darma Asri H. Dedem Ruchlia di depan Prasasti Pusdai. (Foto: Yogi/Pusdai).*

PUSDAI harus menjadi tempat dialog umat guna membahas berbagai isu aktual keislaman dan keumatan. Selain itu, Pusdai juga hendaknya memrogram pembinaan para mualaf yang selama cenderung terabaikan umat Islam.

Demikian dikemukakan mantan Gubernur Jabar HR Nuriana dalam sambutannya pada acara silaturahmi pengurus dan karyawan Yayasan Darma Asri (Pusdai, Bale Asri, Masjid At-Ta’awun) di Ruang Multimedia Pusdai Jabar, Selasa (14/10/2008). Ia hadir dalam kapasitasnya sebagai sesepuh Jabar dan salah seorang pendiri Pusdai Jabar, sekaligus meresmikan prasasti pendirian Pusdai tahun 1997 silam.

Dua hal tersebut, yakni kajian Islam aktual dan pembinaan mualaf, diharapkan Nuriana menjadi bagian dari program unggulan Pusdai Jabar. Nuriana juga menceritakan sejarah pendirian Pusdai, termasuk soal nama Pusdai sendiri. Semula, namanya adalah Islamic Centre, namun dirasa kurang pas dan terlalu umum. “Saya lalu usulkan nama Pusat Dakwah Islam, disingkat Pusdai, bukan PDI nanti mirip partai,” ujar Nuriana.

Soal pembinaan mualaf, Nuriana mengatakan, selama ini banyak pihak yang menyuarakan penentangan terhadap pemurtadan. “Namun orang-orang yang masuk Islam malah diantep (dibiarkan tak terbina),” ujarnya.*

Yogi/Pusdai).*

Pimpinan, pengurus, dan karyawan Yayasan Darma Asri. (Foto: Yogi/Pusdai).*

Retorika Dakwah: Sebuah Pengantar

Oleh ASM. ROMLI

 

Retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini lebih dikenal dengan nama Public Speaking.

Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai “omong kosong” atau “permainan kata-kata” (“words games”), juga bermakna propaganda (memengaruhi atau mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain).

Teknik propaganda “Words Games” terdiri dari Name Calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), Glittering Generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan Eufemism (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya).

 

Gaya Bahasa Retorika

1.      Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal, tamsil);

2.      Monopoli Semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif);

3.      Fantasy Themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak);

4.      Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain),

5.      Kreasi Citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara);

6.      Kata Topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya);

7.      Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan);

8.      Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit,  abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif);

9.      Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

 

Retorika Dakwah

Retorika Dakwah dapat dimaknai sebagai pidato atau ceramah yang berisikan pesan dakwah, yakni ajakan ke jalan Tuhan (sabili rabbi) mengacu pada pengertian dakwah dalam QS. An-Nahl:125:

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…”

Ayat tersebut juga merupakan acuan bagi pelaksanaan retorika dakwah. Menurut Syaikh Muhammad Abduh, ayat tersebut menunjukkan, dalam garis besarnya, umat yang dihadapi seorang da’i (objek dakwah) dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masingnya dihadapi dengan cara yang berbeda-beda sesuai hadits: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka”.

a. Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akan mereka.

b. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.

c. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.

 

Retorika (Dakwah) Islam

Retorika dakwah sendiri berarti berbicara soal ajaran Islam. Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Retorika Islam (Khalifa, 2004), menyebutkan prinsip-prinsip retorika Islam sebagai berikut:

1.      Dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim.

2.      Dakwah Rabbaniyah ke Jalan Allah.

3.      Mengajak manusia dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.

4.      Cara hikmah a.l. berbicara kepada seseorang sesuai dengan bahasanya, ramah, memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan, serta gerakan bertahap.

 

Secara ideal, masih menurut Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, karakteristik retorika Islam a.l.

1.      Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.

2.      Memikat dengan Idealisme dan Mempedulikan Realita.

3.      Mengajak pada keseriusan dan konsistensi, dan tidak melupakan istirahat dan berhibur.

4.      Berorientasi futuristik dan tidak memungkiri masa lalu.

5.      Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.

6.      Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.

 

Oleh ASM. Romli. Makalah pengantar sekalikus pelengkap “Training Retorika Dakwah: Public Speaking untuk Dakwah” yang diselenggarakan Bidang Kajian, Informasi, dan Kemasyarakatan, Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (KIK Pusdai Jabar), 12-13 September 2008. Copyrights © ASM. Romli. Referensi : dari berbagai sumber. Bahasan lengkap versi saya tentang Public Speaking tertuang dalam buku “Lincah Menulis Pandai Bicara”, terbitan Nuansa Bandung, e-mail: ynuansa@telkom.net.*

Dasar-Dasar Public Speaking

Kunci sukses pidato adalah matangnya persiapan dan penguasaan materi.*

Kunci sukses pidato adalah matangnya persiapan dan penguasaan materi.*

Oleh ASM. Romli

PUBLIC Speaking (PS) dimaknai sebagai berbicara di depan umum, utamanya ceramah atau pidato.Secara luas, PS mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.

Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.

Proses PS meliputi tiga tahap : persiapan dan penyampaian. Pada tahap penyampaian juga terbagi tiga, yakni opening, pembahasan, dan penutupan.

PERSIAPAN

Persiapan PS meliputi persiapan MENTAL, FISIK, dan MATERI.

Persiapan mental meliputi a.l. rileks, kenali ruangan, kenali audience, dan kuasai materi.

Persiapan Fisik a.l. memastikan kondisi badan dan suara fit; wardrobe, tidak memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil; lancarkan aliran darah misal dengan menjabat tangan sendiri; serta menjaga agar mulut/tenggorokan tetap basah.

Persiapan Materi a.l. membaca literatur dan menyusun pointer atau outline. Teknis penyampaian materi ada empat pilihan: membaca naskah (Reading from complete text),menggunakan catatan (Using notes), hapalan (memory),dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).

PEMBUKAAN

Awali pembicaraan dengan nada rendah dan lambat (Start Low and Slow), jangan mengakui ketidaksiapan atau keterpaksaan dengan apologi (Don’t apologize).

Teknik membuka PS a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.

PENYAMPAIAN

Teknik pemaparan materi a.l. deduktif, induktif, dan kronologis. Selama pembicaraan, perhatikan power suara agar tetap audible, jelas, dinamis, dan sebaiknya gunakan action and colourful words.

PENUTUP

Jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis, langsung tutup, lalu ucapkan salam. Teknik penutup a.l. menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll.

ELEMEN PUBLIC SPEAKING

Elemen PS meliputi (1) Teknik Vokal –intonasi/nada bicara, aksentuasi/stressing pada kata-kata tertentu yang dianggap penting, speed, artikulasi/kejelasan pelafalan kata (pronounciation), dan infleksi – lagu kalimat; (2) Eye Contact –sapukan pandangan ke seluruh audience; (3) Gesture –gerakan tubuh; alami, spontan, wajar, tidak dibuat-buat, penuh, tidak sepotong-sepotong, tidak ragu, sesuai dengan kata-kata, jangan berlebihan, variatif, tidak melalukan gerakan tubuh yang tidak bermakna, seperti memegang kerah baju, mempermainkan mike, meremas-remas jari, dan menggaruk-garuk kepala; dan (4) humor, dengan Use Natural Humor,Don’t try to be a stand up comedian, gunakan hentian (pause) sekadar memberikan kesempatan kepada pendengar untuk tertawa. (www.romeltea.com).*

ASM. Romli, Ketua Divisi Kajian dan Informasi Bidang KIK Pusdai Jabar. Materi Diklat Retorika Dakwah Bidang KIK Pusdai Jabar, 12-13 September 2008.*

Da’wah Lewat Media Tulis

 

Asep S. Muhtadi

Asep S. Muhtadi

Oleh Dr. H. Asep S. Muhtadi, MA

 

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah dakwah hampir dimaknai identik dengan ceramah, khutbah, atau sejenisnya. Jarang orang menyebut dakwah terhadap kegiatan seorang kolumnis, wartawan, atau pembuat karya tulis lainnya. Terhadap Kyai Arifin Ilham yang mampu membuat audien menangis ketika mengikuti uraian ceramahnya di suatu mesjid, tanpa harus berpikir panjang, orang gampang saja menyebutnya sebagai seorang da’i. Tapi tidak pada seorang Eddy D. Iskandar meskipun kenyataannya lebih banyak lagi audien yang menangis ketika membaca karya tulisnya yang dibuat dalam bentuk novel.

Padahal, jika dakwah itu secara sederhana dimaksudkan sebagai usaha seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mampu melakukan perubahan, baik pikiran, perasaan, sikap maupun perilakunya, maka apapun bentuk kegiatannya, termasuk menulis, seorang kolumnis pun bisa disebut da’i. Melalui karya tulisnya, seorang penulis akan berusaha mempengaruhi para pembacanya sehingga mampu menyentuh audien dalam jumlah yang bisa melebihi para pendengar ceramah akbar sekalipun.

Para penulis juga sebetulnya selalu terlibat dalam kegiatan dakwah. Bahkan usia dakwah tulisan akan jauh lebih panjang dibanding dakwah lisan. Bayangkan, untuk menyampaikan ceramah lisan secara langsung di hadapan para jamaah, seorang Hamka kini tidak mungkin lagi bisa melakukan dakwah, karena memang telah tiada. Tapi melalui media tulis, Hamka hingga saat ini masih tetap “hidup” menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Tafsir Al-Azhar masih hadir di ruang-ruang kuliah dan pengajian; dan Di Bawah Lindungan Ka’bah pun masih tetap lincah mengajak para jamaah merenungkan pesan-pesan moral yang tertata apik dan menggairahkan. Hamka telah tiada, tapi dakwahnya masih tetap hidup mengunjungi para jamaah.

Bukan hanya usianya yang lebih panjang. Tapi media tulis juga memiliki kelebihan yang sulit diimbangi oleh media lisan lainnya, termasuk media elektronik. Beberapa riset komunikasi massa memperlihatkan fakta yang menarik di seputar efek media cetak. Media tulis, salah satunya, ternyata memiliki kekuatan luar biasa dalam mengendalikan perilaku khalayak. Efek psikologisnya memiliki dampak yang lebih permanen dibanding media massa lainnya.

Ada beberapa kelebihan media tulis jika dibandingkan dengan media lisan, termasuk dalam kegiatan berdakwah. Salah satunya adalah bahwa media tulis umumnya memiliki struktur paparan yang lebih rapih dibanding media lisan. Pesan-pesan yang dirangkai dalam tulisan dapat dirumuskan secara lebih hati-hati, sehingga jika sewaktu-waktu penulis melakukan kesalahan pada saat menulis, ia dapat memperbaikinya sebelum dibaca oleh pembaca. Sebaliknya seorang khotib yang melakukan kesalahan ketika menyampaikan khutbah, akan sulit memperbaiki sebelum pesan itu didengar oleh para pendengarnya.

Media tulis juga dapat dipikirkan ulang ketika sewaktu-waktu ditemukan pembacanya ada hal-hal yang sulit dipahami. Sebuah karya tulis dapat disimpan sementara, untuk kemudian dibaca kembali jika diperlukan. Bahkan, jika sewaktu-waktu diperlukan, karya tulis juga dapat diulang-ulang dibaca, sehingga proses internalisasi pesan di kalangan para pembacanya memiliki peluang yang lebih besar, bila dibanding dengan proses penyampaian pesan yang hanya sepintas diterima. Jika ditemukan istilah asing yang belum dipahami maknanya, seorang pembaca dapat dengan leluasa membuka kamus terlebih dahulu. Padahal jika istilah asing itu diperoleh ketika mengikuti ceramah lisan, seorang pendengar akan menemukan kesulitan untuk memperoleh penjelasan makna sehingga akan mengaburkan substansi pesan secara keseluruhan.

Karena itu, pesan-pesan media tulis secara umum memiliki efek yang lebih besar dibanding media lisan. Sebuah survey komunikasi memperlihatkan bahwa pesan-pesan yang disajikan dalam buku (seperti novel, komik, dan sejenisnya) dan majalah ternyata memiliki efek psikologis yang lebih besar dibanding film dan radio yang hanya dikonsumsi melalui indera pendengaran. Salah satu alasannya adalah karena media cetak (seperti koran dan majalah) memiliki tingkat kedekatan (proximity) yang lebih besar dibanding media elektronik (seperti radio dan bahkan televisi).

Selain kelebihan-kelebihan di atas, memang ada kelemahan yang tidak bisa ditawar-tawar. Media tulis mensyaratkan kemampuan membaca audiennya. Seorang buta aksara tidak akan mampu secara langsung menikmati paparan seorang kolumnis yang setiap pagi datang lewat koran dan majalah. Tapi tentu ia dapat menikmati suara merdu seorang penyiar yang juga hadir setiap saat lewat radio. Jika datang ke masjid untuk melakukan shalat jum’at, seorang buta aksara hanya memperoleh satu kenikmatan, yaitu pesan-pesan khotib di atas mimbar. Tapi mereka yang terampil membaca, akan memperoleh paling tidak dua kenikmatan: khotib di atas mimbar dan lembaran jum’at yang kini tersedia hampir di semua masjid.

Di samping kelebihan dan kekurangan media tulis seperti disebutkan di atas, tulisan juga kini dapat menjadi alternatif pemecahan ketika masyarakat sudah tidak mampu lagi meluangkan waktu untuk menghadiri pengajian, mengikuti dakwah-dakwah Islam yang disampaikan dalam bentuk ceramah lisan di masjid-masjid. Proses perubahan pola kerja masyarakat kini telah menyita hampir seluruh waktu bangun mereka. Akibatnya, mereka mulai kehilangan kesempatan untuk menghadiri acara-acara dakwah Islam yang biasa diselenggarakan hampir pada setiap momentum kegiatan dan peringatan-peringatan di negeri ini. Ketidakmampuan mereka untuk menghadiri kegiatan dakwah bukan saja diakibatkan oleh makin sempitnya waktu, tapi juga karena makin terbatasnya tenaga dan membanjirnya pekerjaan.

Alternatifnya, kini diperlukan pola penyampaian dakwah Islam yang tidak terlalu menuntut masyarakat hadir secara langsung. Dan, salah satu solusinya, dakwah disampaikan melalui media tulis. Dengan begitu, dakwah dapat berjalan terus meskipun kesempatan mereka telah tersita seluruhnya. Dakwah melalui media tulis akan tetap datang mengunjungi mereka yang sedang istirahat di rumahnya masing-masing. Mereka bisa tetap menikmati sajian dakwah Islam, tanpa harus meninggalkan pertemuan keluarga selepas makan malam.

Tapi, tuntutannya adalah, kini semakin dibutuhkan para juru dakwah tulisan. Sebab corak dan gaya paparan tertulis tidak selalu sama dengan corak dan gaya paparan lisan. Apa yang enak didengar, belum tentu enak juga dibaca.*

 

– Asep S. Muhtadi, Pakar Komunikasi, Dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN SGD Bandung; Kolomnis Tabloid Alhikmah. Tulisan ini Materi Diklat Jurnalistik Dakwah Bidang KIK Pusdai Jabar, 19-20 September 2008.*

 

Humor sebagai Bagian Retorika Dakwah

H. Usep Romli HM

H. Usep Romli HM

Oleh H. Usep Romli HM

 

DAKWAH, baik bil lisan (ucapan) maupun bilqalam (tulisan), memerlukan ramuan-ramuan yang enak didengar atau dibaca. Agar tidak terasa monoton dan ruwet. Sehingga membuat bosan. Salah satu ramuan itu adalah humor.

Dalam menyampaikan materi dakwah bil lisan , terdapat retorika. Gaya atau cara penyampaian yang variatif. Tekanan suara, turun naik nada, penggalan kalimat, hingga bunyi suara (tenor, bariton, dsb), merupakan bagian dari retorika yang amat penting. Di antara bagian-bagian retorika itu, sekali-kali suka (atau perlu) diselipkan humor untuk lebih menekankan minat dan perhatian pendengar.

Masalahnya, sejauh mana porsi dan peran humor itu dalam penyampaian dakwah ?

Para ahli retorika, mengukur, minimal dua humor dalam satu jam ceramah. Dan para ulama Islam membatasi jenis humor itu tidak menyimpang dari makna dan tujuan dakwah. Jangan sampai terjadi humor yang justru bertentangan dengan essensi dakwah yang mengandung ajakan kepada kebaikan sekaligus pencegahan dari kemungkaran.

Tegasnya, janganlah humor yang “esek-esek”, walaupun memang humor jenis demikian sangat digemari khalayak. Tapi walaupun digemari, harus sesuai dengan kondisi dan situasi.

Bahkan para ulama fiqh , menegaskan, humor yang mengandung “laghwun” termasuk omong kosong dan sia-sia, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.s. Qoshosh : 55.

Untuk menghindari humor menjadi “laghwun”, maka isi humor harus mengandung unsur ketaatan kepada Allah SWT sekaligus menjauhi segala laranganNya.

Literatur Islam masa lalu, cukup banyak menghasilkan karya-karya humor yang mengandung unsur aqidah, ibadah, ahlak dan muamalah. Yang mengajak manusia menyadari posisinya sebagai hamba Allah, dan harus tunduk patuh kepadaNya. Oleh kalangan sufi, humor-humor dengan tokoh-tokoh humor tertentu dijadikan bahan pendidikan dalam meningkatkan kualitas kejiwaan mereka.

Dapat disebut antara lain : Nasruddin Hoja, Bahlul, Hani al Arabiy, Abu Nawas. Mereka sering digambarkan sebagai manusia-manusia tolol, namun ucapan dan perbuatannya justru mengandung penggugah kesadaran kepada kelemahan manusia sebagai mahluk tak berdaya di hadapan al Khaliq.

Dari tokoh-tokoh humor tersebut, kemudian lahir tokoh-tokoh humor lokal di berbagai negara dan daerah.Di Jerman misalnya, ada Baron von Munchaussen yang merupakan duplikasi Nasruddin Hoja. Di Sunda ada Si Kabayan, di Jawa ada Man Doblang, di Bali Pan Balang Tamak, di Melayu Lebai Malang, dan banyak lagi.

 

NABI Muhammad Saw terkenal memiliki sifat humoris. Suatu hari pernah seorang nenek-nenek menanyakan kepada beliau, apakah dirinya pantas masuk surga. Jawab Rasulullah, di surga tidak ada nenek-nenek. Tentu saja Si Nenek menangis. Rasulullah segera melanjutkan, memang di surga semua nenek-nenek disulap menjadi gadis-gadis muda berstatus bidadari.

Para ahli hadits, menilai humor Rasulullah Saw tersebut, selain mengundang senyum arief, juga mengandung kabar gembira (busra). Terutama bagi kalangan lansia, yang terpacu untuk meningkatkan keimanan dan amal soleh.

Bagi para juru dakwah moderen, tentu harus piawai mencari humor-humor baru yang dapat menjadi obat penawar kejenuhan, penghias retorika dan memacu mustami semakin berminat kepada materi yang disajikan.

Patokan humor, sebagaimana digariskan Allan Buchwater, penulis humor terkenal dari Kanada (1990).

a. Sesuai dengan konteks pembicaraan

b. Dapat dimengerti spontan oleh pendengar

c. Mampu menggugah daya nalar

 

Sedangkan menurut Dr. Aid Al-Qarni, penulis buku “I’tabassam” (2003), humor dalam Islam diperbolehkan selama dalam koridor :

a. Kesopanan (etika)

b. Keimanan (akidah)

c. Tidak mengandung mudarat

d. Tidak terjerumus kepada “laghwun” (kesia-siaan).

Melihat acuan-acuan di atas, tinggal bagaimana kita melatih keahlian agar humor dapat diselipkan ke dalam tataran dakwah tanpa merusak makna dan tujuan dakwah. Jangan sampai “cul dogdog tinggal igel”.

– H.Usep Romli HM, wartawan Senior, Mubaligh, Penulis buku humor Sunda “Dulag Nalaktak”

(2006). Tulisan ini Bahan Ceramah Tentang Humor dalam Dakwah dalam Diklat Retorika Dakwah Bidang KIK Pusdai, 12-13 September 2008.*

Ragam Acara dan Tokoh Isi Semarak Ramadhan di Pusdai Jabar

SELAMA Ramadhan 1429 H/September 2008 M, insya Allah Pusdai Jabar menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka ”Mendirikan Ramadhan”. Dengan nama acara SEMARAK RAMADHAN 1429 H bertema “Menebar Amal Menuai Takwa“, kegiatan yang akan digelar a.l.:

1. TRANING RETORIKA DAKWAH: Diklat Public Speaking for Dakwah seperti ceramah, khotbah, dan siaran di radio. Pelaksanaan : 12-13 September 2008, Pkl. 09.00-17.00 WIB. Terbuka untuk umum. Pendaftaran ke Bidang KIK Tlp. (022) 7217074.

2. TRAINING JURNALISTIK DAKWAH: Diklat Menulis Artikel/Berita/Feature keislaman atau keumatan untuk syiar dakwah Islam, termasuk teknik reportase dan wawancara, serta manajemen media dakwah masjid. Pelaksanaan: 19-20 September 2008, Pkl. 09.00-17.00 WIB. Terbuka untuk umum. Pendaftaran ke Bidang KIK.

3. PELATIHAN INSTRUKTUR CARA AL-QURAN METODE AL-BARQY. Gelombang I Tgl 6 September 2008. Gelombang II Tgl 13 September 2008. Tempat terbatas. Pendaftaran ke Bidang Dikda/LBQ Tlp. 022 91318026, 0813 221 811 07.

4. PESANTREN RAMADHAN UNTUK SD-SMP. Tgl. 8-19 September 2008. Pendaftaran ke Bidang Dikda.
5. QUANTUM ARABIC – BELAJAR MUDAH BAHASA ARAB AL-QURAN. Tgl 8-19 September 2008. Pendaftaran ke Bidang Dikda.

6. LOMBA TABUH BEDUG, 27 September 2008, Pkl. 16.00-17.30 WIB di Plaza Pusdai. Pendaftaran ke Bidang Adkeu.

7. PELATIHAN IMAM DAN MUADZIN, 15-25 September 2008, Pkl. 08.00-17.00 WIB.

SELAIN itu, ada juga DIKLAT DAN LOMBA SIARAN DAKWAH, KAJIAN INTENSIF RAMADHAN (KIR) (5, 12, dan 19 September 2008), KAJIAN FILM ISLAMI, SEMINAR EKONOMI SYARI’AH, NADA DAN DAKWAH, BUKA BERSAMA ANAK YATIM, BAZAR, dan banyak lagi.

JADWAL PENCERAMAH TARAWEH MASJID PUSDAI

01 September 2008 Prof. Dr. H. Dadang Kahmad (PW Muhammadiyah Jabar)
02 September 2008 Dr. H. Dedy Mulyasana (Uninus)
03 September 2008 Drs. KH. Olih Komarudin (Pontren)
04 September 2008 Drs. H. Abdul Aziz Pasya (Kanwil Depag Jabar)
05 September 2008 Prof. Dr. Endang Soetari (Uniga)

06 September 2008 H. Ahmad Khumaedi, Lc. (Percikan Iman)
07 September 2008 Prof. Dr. H. Sanusi Uwes (UMC)
08 September 2008 Ir. H. Yudi Widiana Adia (Mubalig)
09 September 2008 KH. Athian Ali M. Da’i (FUUI)
10 September 2008 Drs. KH. Abdul Hamid (UIN Bandung)

11 September 2008 Drs. HR. Maulany (DMI Jabar)
12 September 2008 Prof. Dr. H. Abdurrahman (Unisba)
13 September 2008 dr. H. Hanny Ronosulistyo (Dinkes Jabar)
14 September 2008 Drs. H. Cecep Alamsyah (Depag Kota Bandung)
15 September 2008 H. Saeful Islam Mubarok, Lc. (Maqdis)

16 September 2008 Dr. KH. Miftah Faridl (MUI Kota Bandung)
17 September 2008 Dr. H. Teungku Abdullah Tsany (ITB)
18 September 2008 H. Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar)
19 September 2008 H. Asep Totoh Gozali (IPHI Jabar)
20 September 2008 Prof. Dr. H. Asep Muhyidin (UIN Bandung)

21 September 2008 Drs. H. Diding Hasan (Depag Kota Bandung)
22 September 2008 Prof. Dr. H. Syamsu Yusuf (UPI)
23 September 2008 Prof. Dr. H. Rahmat Syafe’i (MUI Jabar)
24 September 2008 Dr. H. Asep Zaenal Ausof (ITB)
25 September 2008 Drs. Ahmad Sarbini (UIN Bandung)

26 September 2008 Drs. H. Shidieq Amin (PP Persis)
27 September 2008 Drs. H. Ahmad Djuaeni (Pusdai)
28 September 2008 Drs. H. Mahrus (Al-Ihsan)
29 September 2008 Drs. H. Muchtar Gandaatmadja (KBIH Kota Bandung).*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.