Menjaga Hati

Kebersihan hati lebih penting dan lebih utama dari pada kebersihan fisik. Hati yang bersih akan melahirkan tubuh dan perilaku yang bersih dan sehat pula. Kebersihan hati adalah “inner beauty” yang akan terpancar dari pribadi yang memilikinya.

Dalam sebuah “pengajian” di masjid, Rasulullah SAW mengabarkan tentang hadirnya seorang calon penghuni surga di tengah mereka. Orang tersebut tidak dikenal oleh para sahabat, bahkan namanya sekalipun. Ia bukan tokoh, bukan public figure, namun tiba-tiba menjadi sangat istimewa.

Para sahabat merasa penasaran, apa yang istimewa pada diri orang itu hingga Rasulullah SAW menjulukinya sebagai calon penghuni surga. Salah seorang sahabat, Abdullah bin Amr, bertekad memantau dari dekat orang itu, agar lebih jelas mengetahui apa keistimewaannya. Abdullah lalu meminta izin untuk bertamu di rumah orang tersebut selama tiga hari.

Selama bertamu, Abdullah mengawasi amal tuan rumah, gerak-geriknya, tutur katanya, dan cara ibadahnya, hampir-hampir ia tidak tidur karena takut kalau ada amal tuan rumah yang tidak dapat disaksikan.

Namun, Abdullah tidak mendapatkan amal tuan rumah yang istimewa. Amalannya biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol dibanding dengan sahabat-sahabat lainnya, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Sebelum pulang, Abdullah pun bertanya langsung, gerangan apakah amalan istimewa tuan rumah sehingga ia dianggap sebagai calon penghuni surga. Jawabnya, “Tidak ada, selain yang engkau telah lihat. Hanya saja aku belum pernah melakukan kepalsuan terhadap siapa pun dari kalangan umat Islam. Dan aku tidak pernah hasad (iri hati) kepada seseorang yang dianugerahi (nikmat) oleh Allah SWT.” Abdullah berkata, “Itulah yang dapat meningkatkan derajatmu”.

Dalam riwayat lain, orang itu menjawab: “Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang Muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun, ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua dengki, dendam, dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama Muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menyebutku demikian (calon penghuni surga)”.

Kisah populer itu setidaknya mengajarkan satu hal penting kepada kita: kebersihan hati merupakan kunci surga. Dengan kata lain, amal istimewa sang calon penghuni surga adalah menjaga kebersihan hati. Lalu, kenapa kebersihan hati?

Di antara semua anggota atau organ tubuh kita, hati mempunyai status dan fungsi paling istimewa. Hati adalah motor, motivator, atau penggerak anggota tubuh lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tidak heran kalau dalam sebuah hadisnya, Rasulullah SAW menyatakan hati menjadi penentu baik-buruknya amal atau diri seseorang. “Ingatlah, sesungguhnya dalam dirimu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh dirimu. Apablia segumpal daging itu buruk, maka buruk pulalah seluruh dirimu. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati”.

Hati adalah tempat lahirnya niat atau hasrat untuk bertindak. Hati juga adalah tempatnya takwa. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah SAW menyatakan “attaqwa hahuna” (takwa itu di sini) seraya menunjuk dadanya. Kita sering mendengar orang mengatakan, “yang penting hatinya baik”. Hal itu benar adanya. Karena, Allah SWT pun tidak menilai apa pun dari diri kita kecuali hati dan amalnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menilai bentuk tubuhmu, suaramu, tidak juga rupamu, melainkan Dia menilai hati dan amalmu.”

Dalam Alquran ditegaskan, salah satu ciri orang benar-benar beriman adalah bergetar hatinya ketika mendengar nama Allah dan bertambah imannya ketika ayat-ayat-Nya dibacakan (QS. 8: 2). Dalam keseharian, kita sering mendengar orang berpesan atau memberi nasihat dengan ucapan: “Hati-hati!”. Ketika kita hendak pergi, kita dinasihati agar hati-hati; ketika hendak menulis, dipesankan agar hati-hati; ketika hendak bicara juga dipesankan agar hati-hati. Padahal, yang bekerja secara lahiriahnya adalah tangan, kaki, dan mulut. Itu menunjukkan, hati memang pokok atau pangkal segala amal. Hatilah yang menggerakan dan mengendalikan tangan, kaki, dan mulut kita.

Hati adalah tempat atau pusat segala perasaan (emosi). Rasa sedih, senang, marah, benci, dendam, dengki, cinta, dan sebagainya ada dalam hati. Kondisi hati berpengaruh kuat pada kondisi badan atau anggota tubuh lain. Orang yang sedang “tidak enak hati” akan tampak pucat wajahnya, lesu, tidak bergairah.

Kita harus berupaya agar jangan sampai hati kita sakit atau mengandung penyakit, sehingga hati kita tetap bersih sekaligus membersihkan amal. Di antara penyakit hati itu adalah takabur (sombong), riya (pamrih, tidak ikhlas), bakhil (kikir, pelit), hasad (iri, dengki), serta wahn (cinta dunia dan takut mati) yang membuat kita menghindari atau lari dari kuwajiban jihad fi sabilillah, dan lain-lain.

Imam Al-Ghazali mengatakan, penyakit hati yang berupa sifat-sifat buruk dapat diobati dengan cara mengambil sesuatu yang merupakan perlawanannya. “Penyakit bodoh dapat dilenyapkan dengan belajar yang tekun, penyakit kikir dengan bersikap dermawan, penyakit sombong dengan jalan merendahkan hati, penyakit rakus dengan menahan nafsu dari apa-apa yang diinginkannya dengan cara memaksa, demikian seterusnya,” demikian resep Al-Ghazali.

Mengingat pentingnya peran, fungsi, atau posisi hati, maka kita mesti senantiasa berusaha untuk menjaga kebersihan atau kesucian hati kita. Rasulullah menegaskan, “Kesucian hati dari sifat keji itu adalah setengahnya iman” (HR. Muslim). Berdasarkan hadis itu, Imam Al-Ghazali berpandangan, “iman yang sempurna itu adalah menyucikan hati daripada sifat-sifat keji dan menanamkan dalam hati segala sifat-sifat yang terpuji.

Kebersihan hati lebih penting dan lebih utama dari pada kebersihan fisik. Hati yang bersih akan melahirkan tubuh dan perilaku yang bersih dan sehat pula. Sebaliknya, orang yang fisik atau tubuhnya bersih, sehat, mulus, molek, dan tegap, belum tentu hatinya bersih. Kebersihan hati adalah “inner beauty” yang akan terpancar dari pribadi yang memilikinya.

Orang berhati bersih, sudah pasti akan menyadari pentingnya kebersihan badan dan pakaiannya, selain perilakunya pasti bersih dan menyenangkan orang lain. Maka, ungkapan “men sana in corpore sano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, belum tentu benar. Yang benar adalah hati yang sehat (bersih) akan menampilkan perilaku dan akhlak yang bersih, senantiasa berpikir positif (positive thinking, husnuzhan), dan jauh dari sifat dan sikap tercela. Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan kepribadian dan perilaku yang kotor pula.

Sayang, kita mengalami kesulitan untuk menguji dan melihat kebersihan hati para calon presiden dan wakil presiden mendatang. Namun setidaknya, kita sendiri yang berusaha memilih pemimpin dengan hati yang bersih –bersih dari fanatisme buta, fanatisme hizbiyah, pengaruh iklan, bujuk-rayu, dan politik uang-sehingga kita memilih secara rasional bersadarkan panduan syariat Islam yang sudah dijamin kebersihannya.

Kita mendambakan pemimpin yang berhati bersih, sehingga memberi teladan pada kita untuk berhati bersih pula, sehingga bersama-sama membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga bersih, untuk kemudian masuk surga di akhirat kelak. Amien! Wallahu a’lam. (ASM. Romli. Published before @ RoL).*

2 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum… Wah… isinya bagus ya… Makasih nh… mmm…
    mau tanya… misalnya… kita menolong seseorang tetapi, itu karena kita suka dengan orang itu… apakah masih bisa dibilang bisa menjaga hati?

    (*) Menjaga hati itu maksudnya harus ikhlas, motivasi menolong harus semata karena Allah, bukan karena suka atau motif lain; terlepas dari rasa suka-atau tidak kepada yang kita tolong. Motivasi harus senantiasa karena Allah memang suka sama orang yang suka menolong (dalam kebaikan dan takwa). Semoga bermanfaat.*

  2. Assalamualaikum….salam kenal
    ..afwan…mo copy boleh tidak…syukron

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: